Transformasi Digital dan Budaya Literasi Teknologi di Sekolah
Transformasi Digital dan
Budaya Literasi Teknologi di Sekolah
Transformasi digital
tidak hanya menuntut perubahan sistem, tetapi juga perubahan budaya. Sekolah
perlu menumbuhkan budaya literasi teknologi di kalangan guru dan siswa agar
penggunaan perangkat digital tidak berhenti pada tingkat teknis, melainkan
sampai pada pemahaman kritis terhadap makna dan dampaknya. Literasi teknologi
berarti kemampuan memahami, menilai, dan memanfaatkan teknologi secara etis dan
produktif.
Guru menjadi garda depan
dalam membangun budaya ini. Mereka perlu menunjukkan keteladanan dalam
menggunakan teknologi secara bijak, menghindari plagiarisme digital, dan
mendorong siswa untuk menciptakan, bukan sekadar mengonsumsi konten. Literasi
teknologi yang kuat akan membentuk generasi yang tidak mudah terjebak dalam
informasi palsu dan budaya instan.
Namun, membangun budaya
literasi bukan perkara mudah. Banyak sekolah masih berfokus pada aspek
teknis—seperti pelatihan penggunaan aplikasi—tanpa menyentuh dimensi reflektif
dan etis. Akibatnya, teknologi digunakan hanya sebagai alat bantu, bukan sarana
berpikir kritis dan kolaboratif. Sekolah perlu mengintegrasikan literasi
digital ke dalam semua mata pelajaran, bukan hanya pelajaran TIK.
Selain itu, dukungan
kebijakan harus diarahkan pada penguatan kurikulum berbasis kompetensi digital.
Pemerintah dan lembaga pendidikan harus memastikan bahwa setiap sekolah
memiliki strategi pengembangan literasi teknologi yang terencana dan
berkelanjutan. Tanpa strategi, transformasi digital hanya akan menjadi proyek
sesaat.
Budaya literasi teknologi
merupakan fondasi bagi keberlanjutan transformasi digital di sekolah. Dengan
budaya ini, siswa tidak hanya mahir menggunakan perangkat, tetapi juga mampu
memahami konsekuensi sosial, etis, dan intelektual dari setiap tindakan digitalnya.