Perkuliahan S3 Tekankan Analisis Keterkaitan Antarelemen dalam Sistem Pembelajaran
Tema: System-Oriented Models
Topik: “Perkuliahan S3 Tekankan Analisis Keterkaitan Antarelemen dalam Sistem Pembelajaran”
Pengampu: Prof. Dr. Mustaji, M.Pd dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd
Dalam konteks pendidikan modern, memahami hubungan
antarelemen dalam sistem pembelajaran menjadi kunci untuk menciptakan proses
belajar yang efisien dan berkelanjutan. Kesadaran inilah yang ditanamkan dalam
kegiatan akademik mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas
Negeri Surabaya (UNESA) bertajuk “Perkuliahan S3 Tekankan Analisis
Keterkaitan Antarelemen dalam Sistem Pembelajaran,” yang dilaksanakan pada 6
November 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kajian System-Oriented
Models pada mata kuliah Landasan Prosedur Pengembangan Model
Pembelajaran yang dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd
dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd. Melalui diskusi
mendalam, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa sistem pembelajaran yang baik
bukan hanya terdiri dari komponen yang lengkap, tetapi juga memiliki hubungan
fungsional yang kuat antar setiap elemennya.
Dalam pembukaannya, Prof. Mustaji menjelaskan bahwa
pendidikan merupakan sistem terbuka yang terdiri atas berbagai elemen seperti
peserta didik, tujuan, materi, strategi, media, dan evaluasi yang saling
memengaruhi.
“Setiap komponen dalam pembelajaran memiliki peran. Namun,
kekuatan sistem terletak pada keterkaitan antar komponen tersebut. Jika satu
bagian tidak berfungsi optimal, maka keseluruhan sistem akan terganggu,”
jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa memahami keterkaitan antar elemen
membantu pendidik dalam melakukan analisis perbaikan pembelajaran. “Seorang
perancang pembelajaran yang berpikir sistemik tidak hanya memperbaiki satu
bagian, tetapi melihat dampaknya terhadap keseluruhan proses belajar,”
tambahnya.
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat
mengajak mahasiswa untuk melihat hubungan antarelemen pembelajaran dari
perspektif teknologi pendidikan. Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan
peluang besar untuk menghubungkan elemen-elemen pembelajaran dalam satu
ekosistem digital yang terintegrasi.
“Kita bisa memanfaatkan data dari Learning Management System
untuk memahami hubungan antara aktivitas belajar, motivasi mahasiswa, dan hasil
evaluasi. Semua ini bagian dari analisis keterkaitan sistem pembelajaran,”
tuturnya.
Selama perkuliahan, mahasiswa S3 melakukan kegiatan analisis
sistem pembelajaran dengan menggunakan pendekatan diagram hubungan (relationship
mapping). Mereka mengidentifikasi bagaimana setiap elemen berinteraksi dan
bagaimana perubahan kecil dalam satu elemen dapat berdampak terhadap
efektivitas sistem secara keseluruhan.
Salah satu mahasiswa menyampaikan refleksinya bahwa
pendekatan ini memberinya cara berpikir baru dalam merancang pembelajaran.
“Saya belajar melihat pembelajaran sebagai sistem hidup yang
terus bergerak. Dengan memahami keterkaitannya, kita bisa membuat pembelajaran
lebih adaptif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik,” ujarnya.
Diskusi kemudian berkembang pada konteks penerapan model
sistemik di dunia nyata, terutama dalam pembelajaran daring dan blended
learning. Mahasiswa menganalisis bagaimana keseimbangan antara aspek kognitif,
afektif, dan teknologi perlu dijaga agar sistem pembelajaran tetap berfungsi
optimal.
Di akhir kegiatan, Prof. Mustaji menegaskan bahwa
berpikir sistemik adalah keterampilan strategis yang wajib dimiliki oleh
mahasiswa doktoral.
“Analisis keterkaitan antar elemen membantu kita memahami
akar masalah pendidikan, bukan hanya gejalanya. Inilah yang membedakan antara
berpikir deskriptif dan berpikir sistemik,” tegasnya.
Kegiatan ini memperkuat pemahaman mahasiswa S3 Teknologi
Pendidikan UNESA bahwa setiap elemen dalam pembelajaran saling bergantung
dan saling menguatkan. Pendekatan System-Oriented Models memberi mereka
wawasan untuk membangun desain pembelajaran yang integratif, reflektif, dan
berkelanjutan, selaras dengan tantangan dunia pendidikan di era digital.