Analisis Sistem sebagai Dasar Pengembangan Desain Pembelajaran Adaptif
Tema: System-Oriented Models
Topik: “Analisis Sistem sebagai Dasar Pengembangan Desain
Pembelajaran Adaptif”
Pengampu: Prof. Dr. Mustaji, M.Pd dan Dr. Syaiputra Wahyuda
Meisa Diningrat, M.Pd
Dalam menghadapi dinamika pembelajaran abad ke-21, dunia
pendidikan dituntut untuk menghadirkan sistem pembelajaran yang adaptif,
fleksibel, dan responsif terhadap perubahan. Menjawab tantangan tersebut,
mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
(UNESA) mendalami tema “Analisis Sistem sebagai Dasar Pengembangan
Desain Pembelajaran Adaptif” dalam kegiatan akademik yang diselenggarakan
pada 6 November 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Landasan
Prosedur Pengembangan Model Pembelajaran, dengan fokus pada pendekatan System-Oriented
Models di bawah bimbingan Prof. Dr. Mustaji, M.Pd dan Dr.
Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd. Melalui kegiatan ini, mahasiswa
diajak untuk memahami bagaimana analisis sistem dapat menjadi pondasi utama
dalam merancang desain pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan peserta
didik dan lingkungan belajar.
Dalam paparannya, Prof. Mustaji menjelaskan bahwa
analisis sistem adalah langkah awal yang menentukan arah dan keberhasilan
desain pembelajaran.
“Sebelum kita mendesain, kita harus memahami sistem yang
kita hadapi: siapa pembelajarnya, bagaimana konteksnya, dan apa variabel yang
memengaruhi proses belajar. Tanpa analisis sistem yang tepat, desain
pembelajaran akan kehilangan arah,” jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa pendekatan sistemik membantu
pendidik melihat keterkaitan antar komponen pembelajaran—tujuan, strategi,
media, dan evaluasi—sehingga desain yang dihasilkan tidak hanya efektif, tetapi
juga adaptif terhadap perubahan situasi. “Pendidikan bukan sistem statis. Ia
selalu bergerak dan berubah. Maka desainnya pun harus bisa beradaptasi,”
ujarnya.
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat
menyoroti pentingnya integrasi antara analisis sistem dan pemanfaatan teknologi
pembelajaran modern. Menurutnya, teknologi kini berperan sebagai katalis yang
memungkinkan pembelajaran menjadi lebih adaptif.
“Analisis sistem memungkinkan kita memahami kebutuhan
belajar secara mendalam, sementara teknologi memberi kita alat untuk
menyesuaikan proses pembelajaran secara real time. Kombinasi keduanya
menciptakan pembelajaran yang benar-benar personal dan efektif,” ungkapnya.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa melakukan simulasi analisis
sistem pembelajaran adaptif, dengan mengidentifikasi elemen-elemen kunci
seperti kebutuhan pengguna (learner needs), konteks pembelajaran, serta
interaksi antar komponen sistem. Mereka kemudian merancang model adaptif yang
mampu menyesuaikan strategi pembelajaran berdasarkan data dan karakteristik
peserta didik.
Salah satu mahasiswa menyampaikan refleksinya bahwa analisis
sistem membuat proses desain pembelajaran menjadi lebih terarah.
“Kami belajar bahwa desain adaptif bukan sekadar menambahkan
teknologi, tapi memahami sistem pembelajaran secara menyeluruh agar setiap
intervensi benar-benar relevan dengan kebutuhan belajar,” ujarnya.
Kegiatan diskusi kemudian mengarah pada pembahasan peran
analisis data dan umpan balik pembelajar dalam mengembangkan sistem
pembelajaran adaptif berbasis kecerdasan buatan. Mahasiswa mendiskusikan
bagaimana algoritma pembelajaran dapat digunakan untuk menyesuaikan materi dan
strategi berdasarkan performa individu.
Menutup sesi, Prof. Mustaji menegaskan bahwa
kemampuan melakukan analisis sistem adalah keterampilan penting bagi calon
doktor di bidang teknologi pendidikan.
“Mahasiswa doktoral harus mampu berpikir sistemik dan
analitis. Analisis sistem adalah kunci agar desain pembelajaran tidak hanya
teoritis, tapi kontekstual dan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan
UNESA semakin memahami bahwa analisis sistem bukan sekadar langkah teknis,
melainkan kerangka berpikir strategis dalam menciptakan pembelajaran
yang adaptif, efisien, dan relevan dengan tantangan pendidikan di era digital.