Teori Pembelajaran Humanistik dalam Era AI dan Teknologi Adaptif
Teori Pembelajaran Humanistik dalam Era AI dan Teknologi
Adaptif
Meskipun dunia pendidikan bergerak menuju digitalisasi, teori pembelajaran
humanistik tetap memiliki relevansi penting. Pendidikan bukan sekadar
mentransfer pengetahuan, tetapi membangun identitas, nilai, empati, dan makna
belajar. Ketika AI mengambil peran dalam menentukan jalur pembelajaran,
memberikan umpan balik otomatis, dan mengadaptasi konten, muncul pertanyaan
baru: bagaimana teori humanistik berperan dalam era teknologi adaptif?
Pembelajaran humanistik menekankan kebebasan memilih, refleksi diri,
motivasi internal, dan hubungan interpersonal. Dalam era teknologi, nilai ini
tidak boleh hilang. AI dapat membantu siswa belajar efektif, tetapi tidak dapat
menggantikan makna interaksi manusia. Maka, teori baru perlu mengintegrasikan
nilai humanistik ke dalam sistem digital. AI harus dirancang bukan untuk
mengontrol pembelajaran, tetapi untuk memberdayakan siswa dalam menemukan
potensi dan minatnya.
Pembelajaran adaptif
dapat mendukung prinsip humanistik jika digunakan dengan tepat. Ketika AI
menawarkan rekomendasi belajar personalisasi berdasarkan minat, bukan hanya
kelemahan akademik, maka teknologi tersebut mendukung motivasi intrinsik siswa.
Begitu pula jika siswa diberi kesempatan mengatur tujuan belajar mandiri, AI
menjadi mitra refleksi, bukan instruktur kaku.
Namun, jika AI digunakan secara salah, ia dapat bertentangan dengan nilai
humanistik. Misalnya, jika sistem memaksa jalur belajar tertentu karena
dianggap paling "efisien", siswa kehilangan hak untuk mengeksplorasi.
Maka ilmuwan teknologi pendidikan harus mempertimbangkan keseimbangan antara
personalisasi otomatis dan kebebasan manusia.
Teori pembelajaran humanistik di era AI harus menekankan bahwa teknologi
adalah sarana, bukan pusat pembelajaran. Manusia tetap menjadi aktor utama,
sedangkan AI bertindak sebagai pendukung belajar mandiri, eksploratif, dan
bermakna. Dengan integrasi ini, pendidikan masa depan bukan hanya cerdas secara
digital, tetapi juga berkompas moral, empatik, dan humanis.