TEAM BASED LEARNING: STRATEGI EFEKTIF MEMBANGUN KOLABORASI DAN PEMAHAMAN MENDALAM DI KELAS
TEAM BASED LEARNING: STRATEGI EFEKTIF MEMBANGUN KOLABORASI DAN PEMAHAMAN MENDALAM DI KELAS
Oleh: Mustaji
Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, pembelajaran tidak lagi cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Era abad ke-21 menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi. Di sinilah model Team Based Learning (TBL) hadir sebagai salah satu pendekatan yang efektif untuk menjawab tantangan tersebut. Menurut Parmele (2012), TBL adalah pembelajaran aktif dan strategi pembelajaran dengan kelompok kecil yang menyediakan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan konsep melalui tahap aktivitas-aktivitas, meliputi kerja individual (individual work), kerja tim (teamwork), dan umpan balik cepat (immediate feedback).
Elemen TBL
Dalam pembelajaran Team Based Learning, aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa lebih banyak digunakan untuk kegiatan kelompok seperti menyelesaikan lembar kerja atau tes tes yang diberikan dosen. Hasil dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan dosen dapat digunakan untuk membuat kelompok yang lebih terstruktur. Menurut Michaelsen dan Sweet (2008), elemen atau aspek-aspek utama dalam model pembelajaran TBL adalah sebagai berikut:
1. Group
Grup atau tim harus dibentuk dan dikelola secara benar. TBL membutuhkan instruktur untuk mengawasi dalam pembentukan kelompok sehingga dapat mengelola tiga variabel penting, yaitu: (a) Memastikan bahwa kelompok memiliki sumber daya yang memadai untuk mandiri dalam menyelesaikan tugas mereka dan memiliki kemampuan yang setara di seluruh kelompok, (b)Menghindari kenggotaan dari latar belakang yang sama, dan (c) Memastikan bahwa kelompok-kelompok memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi tim belajar. Kelompok harus berisi campuran mahasiswa dengan karakteristik yang berbeda sehingga proses belajar lebih mudah. Tujuannya di sini adalah untuk membekali kelompok dengan cara mengisi kelompok dengan anggota yang akan memberikan perspektif yang berbeda untuk tugas yang diberikan. Waktu adalah faktor kunci dalam pengembangan tim. Setiap buku dinamika kelompok menjelaskan bahwa kelompok perlu waktu untuk berkembang menjadi tim berkinerja tinggi, karna itulah mahasiswa harus dalam kelompok yang sama untuk keseluruhan program TBL
2. Akuntabilitas
TBL menuntut mahasiswa untuk bertanggung jawab kepada instruktur dan rekan satu tim. Individu mahasiswa secara kualitas dan kuantitas bertanggung jawab masing-masing. Selanjutnya, tim juga harus bertanggung jawab atas kualitas dan kuantitas pekerjaan mereka.
Persiapan pra-kelas merupakan tanggung jawab individu terhadap kelompok, kurangnya persiapan juga menghambat pengembangan kekompakan karena mahasiswa yang memiliki persiapan akan membenci teman-teman mereka yang tidak memiliki persiapan. Sebaliknya, tidak jarang untuk pada sesi pra-RAT anggota kelompok belajar bersama antara mahasiswa yang memiliki skor tinggi bersama dengan anggota tim yang mungkin jika tidak memiliki persiapan pra-kelas.
3. Feed back
Umpan balik langsung adalah kunci pokok dalam proses pembelajaran TBL, terdapat dua alasan mengapa umpan balik menjadi sangat penting pada proses TBL. Pertama, umpan balik adalah sangat penting untuk mempelajari konten pembelajaran dan penyampaian gagasan yang tidak hanya menurut intuisi tetapi berdasarkan dokumentasi dalam literatur dan penelitian. Kedua, umpan balik langsung memiliki dampak yang luar biasa pada pengembangan kelompok.
4. Desain Tugas
Tugas kelompok harus didesain agar pembelajar dapat berlangsung dengan baik dan mendukung perkembangan tim. Aspek yang paling mendasar dari merancang tugas tim adalah memastikan bahwa mereka benar-benar membutuhkan interaksi kelompok. Di sebagian besar kasus, tugas tim akan menghasilkan interaksi jika mereka memerlukan tim untuk membuat keputusan, membahas materi yang melibatkan satu tim dalam menyelesaikan masalah yang kompleks, dan memungkinkan tim untuk membuat laporan diskusi mereka dalam bentuk sederhana.
Dari Belajar Individu ke Belajar Kolaboratif
Selama ini, banyak pembelajaran di kelas masih berpusat pada individu—setiap mahasiswa belajar sendiri, mengerjakan tugas sendiri, dan dinilai secara individu. Padahal, dunia kerja dan kehidupan nyata justru menuntut kolaborasi. Model TBL menggeser paradigma itu dengan menempatkan tim sebagai inti dari proses belajar. Dalam TBL, mahasiswa tidak hanya mendengarkan penjelasan dosen, tetapi aktif mempersiapkan diri sebelum pertemuan melalui bacaan atau modul (pre-class preparation). Saat pertemuan, mereka diuji secara individu dan tim melalui Readiness Assurance Test (RAT). Setelah itu, tim dihadapkan pada masalah nyata atau studi kasus yang menuntut analisis, diskusi, dan pengambilan keputusan bersama. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Mahasiswa tidak hanya tahu “apa”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana”.
Mendorong Pembelajaran Bermakna dan Menumbuhkan Tanggung Jawab dan
Ketika diterapkan dengan konsisten, TBL terbukti mampu meningkatkan pemahaman konsep, retensi jangka panjang, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Lebih dari itu, TBL menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan menantang secara intelektual.Mahasiswa tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun makna dan relasi sosial yang memperkaya proses belajar mereka. Pada sisi lain TBL mampu membangun rasa tanggung jawab ganda: tanggung jawab individu terhadap pemahaman materi, dan tanggung jawab sosial terhadap keberhasilan tim. Dalam diskusi, setiap anggota dituntut untuk berkontribusi. Tidak ada lagi mahasiswa “penumpang” karena keberhasilan tim bergantung pada partisipasi semua anggota. Situasi ini menumbuhkan kepemimpinan, kemampuan mendengarkan, dan menghargai perbedaan pendapat—keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia profesional.
Tantangan Implementasi
Meski banyak manfaatnya, implementasi TBL tidak selalu mudah. Dosen harus siap berperan sebagai fasilitator dan perancang strategi belajar, bukan sekadar penyampai materi. Persiapan materi pra-kelas, penyusunan tes kesiapan, serta desain aktivitas kolaboratif memerlukan waktu dan kreativitas tinggi.
Selain itu, budaya belajar mahasiswa Indonesia yang masih cenderung pasif menjadi tantangan tersendiri. Banyak yang belum terbiasa belajar secara mandiri sebelum perkuliahan dimulai. Oleh karena itu, pembiasaan dan motivasi belajar mandiri menjadi kunci keberhasilan TBL.
Penutup
TBL bukan sekadar model pembelajaran, melainkan sebuah filosofi pembelajaran: bahwa belajar adalah proses sosial yang bermakna ketika dilakukan bersama. Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang menekankan kreativitas dan kolaborasi, TBL menjadi salah satu model yang patut dikembangkan lebih luas di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia.