Tantangan Etika dan Privasi dalam Pengembangan Teori Pembelajaran Digital Berbasis Artificial Intelligence
Tantangan Etika dan Privasi dalam Pengembangan Teori
Pembelajaran Digital Berbasis Artificial Intelligence
Perkembangan Artificial Intelligence dalam dunia pendidikan membuka peluang
baru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih personal, efisien, dan terukur.
Namun, di balik kemajuan tersebut muncul satu masalah yang tidak dapat
diabaikan, yaitu persoalan etika dan privasi data peserta didik. Dalam era
digital, data bukan hanya informasi, tetapi aset yang memiliki nilai strategis
dan berpotensi memengaruhi masa depan seseorang. Maka, ilmuwan teknologi
pendidikan memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengembangkan teori
pembelajaran berbasis AI, tetapi juga memastikan teori tersebut berpijak pada
prinsip moral yang melindungi martabat dan hak-hak digital peserta didik.
Dalam sistem pembelajaran digital berbasis AI, data siswa dikumpulkan
melalui platform pembelajaran, asesmen adaptif, rekaman aktivitas interaksi
pengguna dengan materi, hingga analisis ekspresi wajah atau rekam suara dalam
beberapa model AI berbasis sensor. Data ini dapat digunakan untuk memprediksi
kesulitan belajar, memberikan rekomendasi materi, atau bahkan memprofilkan
karakter dan kecerdasan siswa. Di satu sisi, hal ini mendukung personalisasi
pembelajaran; di sisi lain, terdapat risiko besar ketika data tersebut bocor,
disalahgunakan, atau digunakan untuk tujuan komersial tanpa persetujuan.
Tantangan etika juga muncul ketika AI digunakan sebagai penilai atau
pengambil keputusan. Jika sebuah sistem AI menentukan kemampuan siswa atau
memberikan evaluasi otomatis, maka muncul pertanyaan: apakah keputusan sistem
telah bebas dari bias? AI belajar dari data, dan jika data asalnya bias, maka
AI pun ikut bias. Misalnya, jika sistem banyak dilatih dengan data siswa dari
wilayah tertentu, ia dapat memberikan penilaian tidak adil kepada siswa dari
konteks budaya berbeda. Keadilan algoritmik menjadi aspek penting dalam teori
pembelajaran digital berbasis AI.
Selain itu, ada pula persoalan otonomi belajar manusia. Jika AI terlalu
dominan dalam menentukan jalur pembelajaran, maka peserta didik dapat
kehilangan kendali terhadap proses belajarnya. Dalam konteks pendidikan,
penting untuk menjaga keseimbangan antara bantuan teknologi dan kebebasan
manusia untuk mengambil keputusan. AI seharusnya menjadi alat pendamping yang
memperkuat kapasitas berpikir kritis, bukan menggantikan proses pengambilan
keputusan.
Ilmuwan teknologi pendidikan perlu memastikan teori baru yang dikembangkan
memasukkan kerangka berpikir etik seperti transparansi algoritma, persetujuan
penggunaan data, hak untuk menghapus data, serta perlindungan identitas
digital. Selain itu, pendekatan human-centered design harus menjadi landasan
utama, karena pendidikan pada hakikatnya bertujuan memanusiakan manusia, bukan
mengotomasi manusia menjadi objek algoritma.
Pada akhirnya, tantangan etika dalam AI bukanlah alasan untuk menolak
teknologi, tetapi menjadi acuan agar teknologi berkembang dengan prinsip yang
benar. Teori pembelajaran berbasis AI harus memprioritaskan akuntabilitas,
keadilan, dan perlindungan privasi. Ilmuwan pendidikan bukan hanya teknolog,
tetapi penjaga nilai humanistik dalam evolusi pendidikan digital. Jika teori
yang dirumuskan selaras dengan etika dan hak privasi, maka AI bukan hanya alat
cerdas, tetapi mitra yang bermoral dalam proses pembelajaran.