Tantangan dan Peluang Pembelajaran Daring di Wilayah Bencana Aceh dan Sumatra
Tantangan dan Peluang Pembelajaran Daring di
Wilayah Bencana Aceh dan Sumatra
Bencana alam menimbulkan tantangan besar bagi pendidikan daring. Di Aceh
dan Sumatra, siswa sering menghadapi jaringan putus, listrik padam, dan
kehilangan akses ke perangkat. Tantangan ini membuat banyak sekolah kesulitan
mempertahankan proses belajar. Namun, dari tantangan tersebut juga muncul
peluang inovasi dalam desain pembelajaran daring yang lebih fleksibel, adaptif,
dan humanis.
Salah satu tantangan utama adalah infrastruktur. Banyak desa terdampak
sulit dijangkau, dan sinyal internet tidak merata. Hal ini menuntut guru untuk
menggunakan metode low-tech dan medium-tech, seperti SMS, WhatsApp, radio, atau
modul cetak. Materi harus ringkas, mudah diakses, dan tidak membebani kuota.
Tantangan kedua adalah kondisi psikologis siswa. Bencana menimbulkan stres,
trauma, dan ketidakpastian. Pembelajaran daring harus memperhatikan faktor ini
dengan mengurangi beban tugas, memberikan fleksibilitas waktu, serta
menyediakan ruang komunikasi empatik dengan guru.
Di balik tantangan, muncul peluang besar. Guru dapat mengembangkan metode
kreatif, seperti microlearning, pembelajaran berbasis proyek lokal, dan modul
offline. Aktivitas belajar dapat disesuaikan dengan lingkungan sekitar siswa,
misalnya melalui observasi, dokumentasi, atau proyek reflektif. Hal ini tidak
hanya membuat pembelajaran relevan, tetapi juga mendorong keterampilan abad 21,
seperti kreativitas, problem solving, dan kemandirian.
Peluang lain adalah penguatan literasi digital sederhana. Dengan perangkat
terbatas, siswa belajar memanfaatkan teknologi yang ada secara efektif,
mengelola file offline, dan berkomunikasi secara ringkas namun efektif.
Keterampilan ini akan berguna bahkan di luar konteks bencana.
Dengan strategi yang tepat, tantangan pembelajaran daring di masa bencana
dapat diubah menjadi peluang inovasi pendidikan yang lebih inklusif, fleksibel,
dan relevan dengan kebutuhan siswa.