Strategi Pembelajaran Online Berbasis Microlearning untuk Situasi Darurat
Strategi Pembelajaran Online Berbasis
Microlearning untuk Situasi Darurat
Microlearning menjadi salah satu pendekatan paling relevan untuk
pembelajaran di wilayah bencana seperti Aceh dan Sumatra. Microlearning
menyajikan materi dalam potongan kecil, fokus, dan mudah dicerna, sehingga
cocok bagi siswa yang menghadapi kendala waktu, jaringan, maupun kondisi
psikologis.
Dalam situasi bencana, siswa sulit mengikuti pembelajaran panjang atau
materi kompleks. Mereka mungkin hanya memiliki beberapa menit untuk mengakses
internet sebelum jaringan hilang. Karena itu, microlearning menawarkan
keunggulan berupa fleksibilitas. Materi dapat berupa paragraf ringkas, gambar
kecil, audio 20–40 detik, atau video 1 menit.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan microlearning memfasilitasi belajar
mandiri. Di tengah kondisi darurat, siswa membutuhkan materi yang jelas dan
langsung pada inti. Guru dapat mendesain kartu belajar, knowledge nugget,
atau modul mini yang fokus pada satu kompetensi saja.
Microlearning juga mengurangi kebutuhan kuota serta tekanan mental siswa.
Materi kecil membuat mereka merasa mampu menyelesaikan tugas di tengah situasi
sulit. Guru dapat menggunakan WhatsApp sebagai media utama, mengirimkan
micro-lesson setiap hari, lengkap dengan instruksi sederhana.
Selain itu, pendekatan microlearning dapat dipadukan dengan aktivitas
berbasis konteks bencana, seperti pengamatan lingkungan sekitar, dokumentasi
visual, atau refleksi pengalaman. Hal ini membuat pembelajaran lebih bermakna
sekaligus relevan.
Dalam jangka panjang, microlearning dapat menjadi skema pembelajaran
darurat yang siap digunakan kapan pun bencana datang. Model ini sederhana,
murah, dan efektif dalam menjaga keberlanjutan pendidikan.