Simposium Prodi S3 Teknologi Pendidikan Kupas Integrasi Kognitivisme dan Teknologi AI
Surabaya, 29 Oktober 2025 — Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan Simposium Akademik bertajuk “Integrasi Kognitivisme dan Teknologi AI dalam Pembelajaran Modern.” Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kuliah tematik dalam mata kuliah Kognitivisme dan Pembelajaran Berbasis Proses Mental yang diampu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd.
Simposium ini menghadirkan diskusi ilmiah yang mendalam mengenai bagaimana teori kognitivisme — yang menekankan proses mental dalam belajar — dapat diintegrasikan dengan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat pembelajaran adaptif dan personal di era digital. Acara diikuti oleh mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan, peneliti muda, dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kognitivisme dan AI: Kolaborasi antara Pikiran dan Mesin
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Mustaji menjelaskan bahwa integrasi antara kognitivisme dan AI merupakan langkah strategis untuk menciptakan sistem pembelajaran yang lebih efektif dan berpusat pada individu. Menurutnya, prinsip kognitivisme dapat menjadi landasan konseptual bagi teknologi kecerdasan buatan untuk memahami cara manusia berpikir, memproses informasi, dan membuat keputusan.
“Kognitivisme membantu kita memahami struktur berpikir manusia, sementara AI mampu meniru dan memperkuatnya. Ketika keduanya digabungkan, kita tidak hanya menciptakan teknologi pembelajaran, tetapi juga membangun sistem yang belajar dari perilaku manusia itu sendiri,” ujar Prof. Mustaji.
Ia mencontohkan bahwa dalam pembelajaran adaptif, AI dapat menganalisis data perilaku mahasiswa untuk memberikan stimulus yang sesuai — sebuah bentuk penerapan prinsip feedback loop yang selaras dengan teori kognitivistik.
AI Sebagai Fasilitator Proses Mental
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd. menyoroti bagaimana AI dapat memperluas penerapan teori kognitivisme dalam konteks pembelajaran digital. Ia menjelaskan bahwa teknologi seperti learning analytics, chatbot tutor, dan sistem rekomendasi berbasis AI dapat digunakan untuk memfasilitasi proses berpikir mahasiswa secara lebih personal.
“AI bukan pengganti dosen, melainkan mitra dalam merangsang proses berpikir mahasiswa. Dengan analisis data yang cerdas, AI mampu membantu dosen merancang intervensi belajar yang sesuai dengan kebutuhan kognitif tiap individu,” ungkap Dr. Syaiputra.
Beliau menambahkan bahwa tantangan utama bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana pendidik mampu memahami dasar-dasar psikologi kognitif untuk mengoptimalkan penggunaannya.
Menyiapkan Pembelajaran Masa Depan
Dalam sesi diskusi terbuka, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan aktif mengajukan gagasan riset terkait integrasi AI dengan pendekatan kognitivistik, seperti model AI-Driven Cognitive Mapping dan Adaptive Reflection System yang bertujuan membantu mahasiswa memahami proses berpikirnya sendiri.
Prof. Mustaji menutup kegiatan dengan menegaskan bahwa pendidikan masa depan akan bergantung pada keseimbangan antara human cognition dan machine intelligence. “AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi akan memperkuat potensi berpikir manusia bila dirancang berdasarkan pemahaman yang benar tentang kognisi,” tutupnya.
Simposium ini tidak hanya memperkaya wawasan teoretis mahasiswa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi penelitian interdisipliner antara bidang teknologi pendidikan, psikologi kognitif, dan kecerdasan buatan. Dengan semangat inovasi dan refleksi ilmiah, UNESA terus berkomitmen menjadi pelopor dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi yang humanistik dan adaptif.
🖋️ Reporter: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📍 Editor: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📅 Tanggal Publikasi: 29 Oktober 2025