Humanisme sebagai Jiwa Pendidikan Program Doktor Teknologi Pendidikan di Era Transformasi Digital
Surabaya, 30 Oktober 2025 — Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menghadirkan perkuliahan reflektif dan inspiratif dengan tema “Humanisme sebagai Jiwa Pendidikan Program Doktor Teknologi Pendidikan di Era Transformasi Digital.” Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Humanisme dan Pembelajaran Berorientasi Nilai yang diampu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd., pakar pendidikan yang konsisten menekankan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik pendidikan.
Dalam suasana akademik yang hangat, Prof. Mustaji mengajak para mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan untuk merenungkan kembali makna sejati dari pendidikan di tengah derasnya arus digitalisasi. Ia menegaskan bahwa pendidikan modern tidak boleh kehilangan ruh humanismenya, yaitu menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pembelajaran.
Menjaga Nilai Kemanusiaan di Tengah Teknologi
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Mustaji menyoroti bagaimana perkembangan teknologi yang pesat sering kali membuat manusia terjebak dalam efisiensi mekanistik, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam.
“Transformasi digital tidak boleh menjadikan pendidikan kehilangan empati. Teknologi hanyalah alat — yang utama tetap manusia, dengan nurani dan akal budinya,” tegas Prof. Mustaji.
Beliau menambahkan bahwa prinsip humanisme menuntut pendidik untuk melihat peserta didik bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai pribadi yang memiliki potensi, emosi, dan nilai-nilai unik. Dalam konteks pendidikan Program Doktor Teknologi Pendidikan, hal ini berarti membangun relasi akademik yang lebih bermakna, kolaboratif, dan saling menghargai.
Humanisme dalam Pembelajaran Program Doktor Teknologi Pendidikan
Dalam diskusi yang dipandu secara interaktif, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana nilai-nilai humanisme dapat diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran berbasis teknologi. Beberapa mahasiswa menyoroti pentingnya learning design yang tidak hanya menekankan ketercapaian kompetensi akademik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran diri, empati sosial, dan tanggung jawab etis.
Salah satu mahasiswa menuturkan bahwa pembelajaran berbasis humanisme memberikan ruang bagi refleksi pribadi dan kolaborasi yang lebih bermakna.
“Kami tidak hanya diajak berpikir, tetapi juga diajak merasa — untuk memahami bahwa pendidikan sejati adalah tentang menjadi manusia yang lebih baik,” ujarnya.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat pendidikan abad ke-21 yang menuntut keseimbangan antara kemampuan kognitif, sosial, dan emosional.
Humanisme di Era Digital: Tantangan dan Harapan
Dalam penutup kuliah, Prof. Mustaji menegaskan bahwa humanisme bukanlah konsep klasik yang tertinggal oleh zaman, melainkan fondasi moral yang semakin relevan di era digital. Menurutnya, di tengah kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan dan pembelajaran daring, nilai-nilai kemanusiaan justru menjadi pegangan utama agar pendidikan tetap berpihak pada manusia.
“Kita boleh maju dengan teknologi, tetapi jangan kehilangan hati. Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang menumbuhkan manusia seutuhnya,” pungkasnya.
Dengan menanamkan semangat humanisme, Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA berkomitmen untuk mencetak ilmuwan dan praktisi pendidikan yang tidak hanya unggul dalam inovasi, tetapi juga beretika, berempati, dan berjiwa humanis.