Kelas Digital UNESA Terapkan Prinsip Konektivisme untuk Kolaborasi Global
Surabaya, 30 Oktober 2025 — Dalam upaya memperkuat pembelajaran abad ke-21, Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar perkuliahan tematik bertema “Kelas Digital UNESA Terapkan Prinsip Konektivisme untuk Kolaborasi Global.” Kegiatan ini menjadi bagian dari mata kuliah Konektivisme: Teori Belajar Abad 21 yang diampu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd., pakar yang dikenal konsisten mendorong integrasi teknologi dalam desain pembelajaran pascasarjana.
Kuliah tersebut membahas bagaimana teori konektivisme dapat diterapkan dalam kelas digital untuk menciptakan jejaring kolaborasi internasional antar mahasiswa, dosen, dan peneliti lintas negara. Menurut Prof. Mustaji, konektivisme hadir sebagai respons terhadap perubahan pola belajar di era digital, di mana pengetahuan tersebar dalam jaringan yang luas dan saling terhubung.
“Belajar di abad ke-21 bukan lagi sekadar menerima informasi, melainkan menghubungkan, mengonstruksi, dan membagikan pengetahuan bersama komunitas global,” tegas Prof. Mustaji dalam pengantarnya.
Konektivisme dan Ekosistem Belajar Global
Dalam diskusi perkuliahan, dijelaskan bahwa teori konektivisme yang dicetuskan oleh George Siemens dan Stephen Downes berfokus pada bagaimana pengetahuan dibangun melalui koneksi antar individu, teknologi, dan sistem informasi. Konsep ini menekankan pentingnya jejaring digital sebagai ruang belajar yang hidup dan dinamis.
Melalui pendekatan ini, kelas digital UNESA tidak hanya menjadi ruang tatap maya, tetapi juga wadah kolaborasi riset, berbagi ide, serta membangun jaringan keilmuan antar negara. Mahasiswa diajak menggunakan berbagai platform seperti Google Scholar, Mendeley, ResearchGate, hingga LinkedIn Academic Network untuk memperluas koneksi akademik mereka.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa kolaborasi digital bukan sekadar diskusi daring, tetapi proses membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan dan produktif,” jelas Prof. Mustaji.
Kolaborasi Lintas Batas dan Praktik Konektivisme
Salah satu mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan, dalam sesi refleksi, menyampaikan bahwa penerapan konektivisme membuat mereka lebih sadar akan pentingnya kemampuan mengelola informasi dari berbagai sumber global.
“Kami belajar tidak hanya dari dosen, tetapi juga dari komunitas akademik internasional. Jejaring ini membantu memperluas wawasan sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dan reflektif,” ujarnya.
Beberapa mahasiswa juga mulai menginisiasi proyek kolaboratif lintas negara, seperti joint research dan virtual seminar, sebagai bentuk penerapan nyata dari prinsip konektivisme. Hal ini membuktikan bahwa teknologi digital mampu menjembatani jarak geografis dan membuka peluang kolaborasi global yang lebih luas.
UNESA Menuju Ekosistem Pendidikan Terbuka
Di akhir perkuliahan, Prof. Mustaji menegaskan bahwa konektivisme menjadi landasan penting bagi pengembangan model pembelajaran UNESA yang lebih terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Kelas digital bukan hanya ruang pembelajaran, tetapi ruang kehidupan akademik yang mempertemukan ide-ide lintas budaya dan generasi. Inilah wujud nyata pembelajaran sepanjang hayat,” tutupnya.
Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA dalam mengimplementasikan teori belajar modern yang berorientasi pada jejaring global. Melalui penerapan prinsip konektivisme, UNESA terus memperkuat posisinya sebagai pelopor inovasi pembelajaran di era transformasi digital.