SIAPA YANG TERTINGGAL DALAM REVOLUSI TEKNOLOGI PENDIDIKAN?
Siapa
yang Tertinggal dalam Revolusi Teknologi Pendidikan?
Sekarang
dunia pendidikan sedang mengalami perubahan besar karena kemajuan teknologi.
Sekolah dan kampus berlomba-lomba memakai sistem digital: dari Learning
Management System (LMS), kelas daring, sampai penggunaan kecerdasan buatan
(AI) dalam pembelajaran. Semua terlihat canggih dan modern. Tapi di balik
kemajuan itu, ada pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya tertinggal dalam
revolusi teknologi pendidikan ini?
Yang
paling sering tertinggal adalah mereka yang tidak punya akses ke teknologi.
Masih banyak siswa di daerah terpencil yang kesulitan ikut belajar daring
karena tidak punya perangkat atau sinyal internet yang stabil. Bahkan di kota
besar pun, ada keluarga yang hanya memiliki satu ponsel untuk dipakai bersama.
Jadi, ketika pendidikan beralih ke sistem digital, kelompok ini langsung
tertinggal jauh, bukan karena mereka tidak mau belajar, tapi karena tidak punya
alat untuk ikut.
Selain
siswa, banyak guru juga ikut tertinggal. Tidak semua guru terbiasa dengan
teknologi. Ada yang merasa bingung mengoperasikan platform belajar, membuat
konten digital, atau sekadar mengatur tugas di sistem daring. Sementara
tuntutan sekolah untuk “melek digital” semakin tinggi, tidak semua guru
mendapat pelatihan yang memadai. Akibatnya, ada kesenjangan besar antara guru
yang paham teknologi dan yang masih beradaptasi.
Orang
tua juga sering kewalahan. Terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan
dunia digital, mendampingi anak belajar daring bisa jadi tantangan besar.
Banyak yang bingung cara mengakses tugas, membuka link video, atau mengumpulkan
file. Akhirnya, anak yang seharusnya dibantu justru belajar sendirian. Ini
menunjukkan bahwa teknologi belum benar-benar inklusif bagi semua pihak yang
terlibat dalam pendidikan.
Jadi,
siapa yang tertinggal dalam revolusi teknologi pendidikan? Jawabannya: mereka
yang tidak siap secara fasilitas, kemampuan, dan dukungan. Revolusi seharusnya
membawa semua orang maju bersama, bukan meninggalkan sebagian di belakang.
Maka, penting bagi pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk memastikan bahwa
setiap orang — baik siswa, guru, maupun orang tua — punya kesempatan yang sama
untuk beradaptasi. Karena pendidikan yang adil bukan hanya soal teknologi, tapi
soal siapa yang bisa ikut berkembang bersama kemajuan itu.