Riset Terkini: Integrasi Kognitivisme dan Neurosains dalam Dunia Pendidikan
Surabaya, 29 Oktober 2025 — Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menggelar diskusi ilmiah dalam rangkaian mata kuliah Kognitivisme dan Pembelajaran Berbasis Proses Mental dengan topik menarik bertajuk “Riset Terkini: Integrasi Kognitivisme dan Neurosains dalam Dunia Pendidikan.” Kegiatan ini diampu oleh dua pakar pendidikan, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd., yang menekankan pentingnya hubungan antara cara berpikir manusia dan mekanisme otak dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran modern.
Kognitivisme selama ini berfokus pada bagaimana manusia memperoleh dan mengolah informasi, sedangkan neurosains pendidikan meneliti bagaimana struktur dan fungsi otak berperan dalam proses tersebut. Integrasi keduanya diharapkan dapat melahirkan pendekatan baru dalam desain pembelajaran yang lebih ilmiah, adaptif, dan personal.
Kognitif dan Otak: Dua Sisi dari Proses Belajar
Dalam pembukaan sesi kuliah, Prof. Dr. Mustaji menjelaskan bahwa teori kognitivisme tidak dapat dilepaskan dari aspek biologis manusia. Menurutnya, pemahaman tentang bagaimana otak bekerja akan membantu pendidik merancang strategi belajar yang sejalan dengan cara kerja sistem kognitif.
“Kognitivisme memberi kita peta tentang cara berpikir, sementara neurosains menunjukkan bagaimana peta itu diwujudkan dalam aktivitas otak. Keduanya saling melengkapi dalam menciptakan pembelajaran yang benar-benar efektif,” ungkap Prof. Mustaji.
Beliau menambahkan bahwa riset neurosains terkini, seperti pemindaian otak menggunakan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), dapat membantu memahami area otak yang aktif saat seseorang belajar, mengingat, atau memecahkan masalah. Hasil penelitian semacam ini memberi dasar ilmiah baru untuk teori-teori belajar yang selama ini dikembangkan di bidang teknologi pendidikan.
Pendekatan Ilmiah untuk Pembelajaran Modern
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd. menekankan bahwa integrasi kognitivisme dan neurosains membuka peluang besar bagi inovasi pembelajaran digital dan adaptif. Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini memungkinkan sistem pembelajaran mengenali tanda-tanda kognitif pengguna, seperti tingkat fokus, beban memori, dan pola interaksi.
“Kita memasuki era neuroadaptive learning, di mana sistem pembelajaran mampu menyesuaikan diri dengan kondisi mental pengguna secara real-time. Ini adalah bukti nyata dari sinergi antara neurosains dan teori kognitif,” jelas Dr. Syaiputra.
Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap otak bukan hanya milik ilmuwan biologi, tetapi juga menjadi tanggung jawab para pendidik agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keragaman cara berpikir dan keunikan setiap individu.
Mendorong Kolaborasi Penelitian Lintas Disiplin
Dalam sesi diskusi, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA aktif mengajukan ide-ide penelitian yang menggabungkan teori kognitif dengan temuan neurosains, seperti desain multimedia berbasis aktivasi otak, model pembelajaran berbasis perhatian (attention-based learning), serta strategi metakognitif yang disesuaikan dengan kapasitas memori kerja manusia.
Prof. Mustaji menutup kegiatan dengan menegaskan pentingnya sinergi antara ilmu pendidikan dan ilmu saraf dalam memahami hakikat belajar manusia. “Pendidikan masa depan harus berpijak pada ilmu tentang pikiran sekaligus ilmu tentang otak. Di situlah kita menemukan keseimbangan antara sains dan kemanusiaan,” pungkasnya.
Kegiatan ini memperkuat komitmen UNESA dalam mendorong riset interdisipliner yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran berbasis bukti ilmiah (evidence-based learning). Dengan kolaborasi antara kognitivisme dan neurosains, pendidikan modern diharapkan mampu melahirkan generasi pembelajar yang adaptif, reflektif, dan berdaya pikir tinggi.
🖋️ Reporter: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📍 Editor: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📅 Tanggal Publikasi: 29 Oktober 2025