Prinsip-Prinsip User Interface dan User Experience dalam Web Based Learning
Prinsip-Prinsip User Interface dan User Experience dalam Web Based Learning
Oleh : Liem Ciang Santoso
1. Web Based Learning
Web Based Learning (WBL) dapat di pahami secara umum sebagai pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi jaringan untuk menyampaikan materi, memfasilitasi interaksi, dan mengelola aktivitas instruksional sehingga peserta dapat mengakses sumber belajar kapan saja dan dari mana saja. Dalam perspektif instruksional, WBL tidak semata-mata menempatkan konten di web, tetapi juga merancang proses pembelajaran (tujuan, konten, aktivitas, evaluasi) yang koheren sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan terukur. Pendekatan ini menonjolkan fleksibilitas akses, kemampuan memperbarui materi secara cepat, dan potensi integrasi multimedia untuk memperkaya pengalaman belajar
Adapun penerapan WBL dapat berperan ganda, yaitu sebagai lingkungan pembelajaran utama (full web-based learning) di mana sebagian besar aktivitas pembelajaran (diskusi, kuis, penugasan, umpan balik, pembelajaran kolaboratif) berlangsung secara daring; ataupun sebagai web-supported learning atau web hanya sebagai pendukung yang memperkaya pembelajaran tatap muka dengan bahan tambahan, aktivitas kuliah, dan penilaian daring (Wu, 2011).
Pemilihan peran ini harus didasarkan pada analisis konteks, tujuan instruksional, dan karakteristik peserta. Dari sisi kualitas instruksional, model Web-Based Instructional Design (WBID) dan praktik terbaik e-learning menekankan analisis kebutuhan, desain berorientasi tujuan, evaluasi formatif di sepanjang pengembangan, serta penilaian sumatif untuk menilai efektivitas (Davidson-Shivers et al., 2018).
Kriteria kelayakan WBL mencakup efektivitas (apakah tujuan tercapai), efisiensi (pemanfaatan waktu/sumber daya), daya tarik/appeal (motivasi & engagement), dan usability (kemudahan penggunaan). Ketika aspek-aspek ini terpenuhi, WBL berpeluang besar memberi dampak positif pada hasil belajar dan akses pendidikan (Davidson-Shivers et al., 2018).
2. User Interface (UI) dalam WBL
User Interface (UI) dalam konteks WBL merujuk pada tampilan visual dan komponen interaktif yang menjadi perantara antara pengguna (peserta didik dan pengajar) dan fungsi sistem pembelajaran: tata letak halaman, menu navigasi, tombol tugas/submit, formulir penilaian, ikon, indikator kemajuan, dsb. UI bertugas memastikan bahwa pengguna dapat menemukan, memahami, dan melaksanakan aktivitas belajar tanpa hambatan teknis yang mengganggu fokus pada isi pembelajaran. Dengan kata lain, UI yang baik mengurangi ketidakpahaman secara teknis dari pengguna, sehingga kognisi pengguna dapat terfokus pada pembelajaran.
Prinsip-prinsip desain UI yang penting untuk WBL meliputi konsistensi tata letak dan terminologi (agar pengguna tidak harus belajar ulang pola antarmuka), visibilitas elemen penting dan umpan balik (feedback langsung saat submit tugas atau terjadi error), affordance (elemen tampak “bisa diklik” jika memang dapat diklik), serta kesederhanaan (simplicity) agar fungsi inti mudah dicapai. Selain itu, UI harus responsif; artinya antarmuka menyesuaikan ukuran layar dan mode input sehingga pengguna mobile mendapat pengalaman setara.
Banyak teori psikologi yang dapat memberikan landasan pemahaman akan User Interface yang baik, antara lain yang sering dipakai adalah Teori Gestalt. Teori Gestalt memberikan landasan psikologis praktis untuk menyusun elemen interface agar makna tersampaikan secara intuitif. Prinsip seperti proximity (mengelompokkan elemen terkait), similarity (kesamaan visual untuk elemen sejenis), figure–ground (kontras antara konten dan latar), continuity (membuat pengguna memahami arah animasi atau interface) dan closure (membantu pengguna dapat memahami bentuk-bentuk interface tanpa ambiguitas).
Mengabaikan prinsip-prinsip Gestalt dapat menyebabkan interpretasi yang salah tentang hubungan antar elemen dalam sebuah interface web, misalnya saja mengira tombol hanyalah dekorasi, sehingga merusak kelancaran aktivitas belajar.
3. User Experience (UX) dalam WBL
User Experience (UX) mencakup keseluruhan persepsi, emosi, dan respons pengguna sebelum, saat, dan setelah berinteraksi dengan sistem pembelajaran. dalam konteks WBL, UX bukan hanya soal apakah tombol bekerja, tetapi juga soal apakah platform mendukung motivasi, memfasilitasi alur belajar, membangun kepercayaan, serta terasa bernilai bagi peserta dan institusi. UX yang baik membantu pembelajar merasa aman, termotivasi, dan mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Model User Experience Honeycomb yang diperkenalkan oleh Morville (2004) memberikan peta konsep yang berguna untuk merancang UX yang holistik: platform harus useful (memenuhi kebutuhan pembelajaran), usable (mudah digunakan), desirable (menarik secara visual dan emosional), findable (informasi mudah ditemukan), accessible (dapat diakses pengguna berkebutuhan khusus), credible (materi dan institusi dapat dipercaya), dan valuable (memberi nilai bagi pengguna dan stakeholder). Dalam WBL, menerapkan ketujuh aspek ini membantu memastikan bahwa desain tidak sekadar bisa dipakai, tetapi benar-benar mendukung proses belajar (Huang et al., 2019).
4. Keuntungan Menggunakan Prinsip UI dan UX dalam WBL
Mengintegrasikan prinsip UI dan UX yang kuat ke dalam WBL menghasilkan manfaat langsung bagi efektivitas dan kelayakan sistem pembelajaran.
Pertama, efektivitas pembelajaran meningkat karena peserta tidak terganggu oleh hambatan antarmuka. Pembelajar dapat fokus memproses konten, berlatih, dan menerima umpan balik yang membantu pencapaian tujuan pembelajaran.
Kedua, efisiensi waktu dan sumber daya meningkat: UI yang intuitif mengurangi waktu pelatihan penggunaan sistem dan permintaan dukungan teknis; sementara UX yang baik menurunkan tingkat drop-out dan meningkatkan retensi peserta karena pengalaman belajar terasa memadai dan memotivasi.
Ketiga, desain yang memenuhi prinsip aksesibilitas memperluas inklusivitas sehingga lebih banyak peserta yang termasuk berkebutuhan khusus, dapat menikmati layanan pembelajaran digital.
Keempat, platform yang dirancang menurut prinsip UI/UX meningkatkan kredibilitas institusi dan nilai produk pembelajaran. Sistem yang usable, findable, dan credible membuat pemangku kepentingan lebih percaya terhadap kualitas pembelajaran dan pengukuran hasilnya; dalam jangka panjang ini berdampak pada reputasi akademik dan keberlanjutan program.
Kelima, WBL yang dirancang dengan UI/UX yang baik lebih layak digunakan karena memenuhi kriteria efektivitas, efisiensi, daya tarik, dan usability.
5. Kesimpulan
WBL merupakan pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan kaya multimedia; ia dapat berfungsi sebagai lingkungan belajar utama atau sebagai pendukung pembelajaran tatap muka, dengan syarat desain instruksionalnya terpadu dan terukur.
UI pada WBL harus mengutamakan konsistensi, visibilitas, affordance, kesederhanaan, responsivitas, dan aksesibilitas; teori Gestalt membantu menyusun elemen visual sehingga makna tersampaikan secara intuitif.
UX menuntut pendekatan yang lebih luas daripada sekadar usability. Model honeycomb Morville (2004) yang antara lain adalah useful, usable, desirable, findable, accessible, credible, valuable dapat menjadi panduan merancang pengalaman belajar yang bermakna.
Mengaplikasikan prinsip UI/UX meningkatkan efektivitas, efisiensi, keterlibatan, inklusivitas, dan kredibilitas WBL sehingga sistem lebih layak digunakan oleh pengajar, peserta, dan pemangku kepentingan lain.
Daftar Pustaka
Davidson-Shivers, G. V., Rasmussen, K. L., & Lowenthal, P. R. (2018). Web-based learning: Design, implementation and evaluation: Second edition. In Web-Based Learning: Design, Implementation and Evaluation: Second Edition. https://doi.org/10.1007/978-3-319-67840-5
Huang, R., Spector, J. M., & Yang, J. (2019). Educational Technology A Primer for the 21st Century. In Certifed Nurse Educator (CNE®) Review, Fourth Edition. Springer Nature Singapore.
Wu, H. (2011). Web Based vs. Web Supported Learning Environment - A Distinction of Course Organizing or Learning Style? Informing Science and Information Technology.