Perkuliahan S3 UNESA Bahas Akar Filosofis Paradigma Teknologi Pendidikan
Perkuliahan
S3 UNESA Bahas Akar Filosofis Paradigma Teknologi Pendidikan
Surabaya,
14 November 2025 —
Pemahaman tentang Teknologi Pendidikan tidak hanya berangkat dari teori, model,
atau produk teknologi yang berkembang pesat. Lebih dari itu, disiplin ini
memiliki landasan filosofis yang kuat dan menentukan arah perkembangannya
hingga hari ini. Hal inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam perkuliahan
Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA dengan topik “Akar Filosofis
Paradigma Teknologi Pendidikan.”
Dipandu
oleh dua dosen pengampu, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. dan Dr. Citra Fitri
Kholidya, S.Pd., M.Pd., perkuliahan ini mengajak mahasiswa mengeksplorasi
filosofi yang menjadi dasar berkembangnya Teknologi Pendidikan sebagai sebuah
disiplin ilmu yang kokoh dan terus relevan.
Dalam
pengantar perkuliahan, Prof. Mustaji menegaskan bahwa Teknologi
Pendidikan tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan perangkat atau media,
tetapi sebagai hasil dari pemikiran filosofis mengenai bagaimana manusia
belajar dan bagaimana pembelajaran dapat difasilitasi.
“Paradigma Teknologi Pendidikan berakar pada tiga fondasi
filosofis penting: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiganya membentuk cara kita
memandang pembelajaran, sumber belajar, dan tujuan pendidikan,” jelas Prof. Mustaji.
Beliau
juga menekankan bahwa mahasiswa doktoral perlu memahami akar filosofis tersebut
agar mampu menghasilkan penelitian yang tidak hanya aplikatif, tetapi juga
konseptual kuat.
Sementara
itu, Dr. Citra Fitri Kholidya memperluas diskusi dengan menelusuri
sejarah munculnya paradigma awal Teknologi Pendidikan. Menurutnya,
disiplin ini tumbuh dari perpaduan antara psikologi belajar, komunikasi, teori
sistem, hingga desain instruksional.
“Tidak ada satu pun elemen dalam Teknologi Pendidikan
yang berdiri sendiri. Dari psikologi behaviorisme hingga konstruktivisme,
semuanya memberi kontribusi pada cara kita memandang pembelajaran,”
ujarnya.
Dalam sesi utama, mahasiswa diajak menganalisis bagaimana
ketiga aspek filosofi—ontologi, epistemologi, dan aksiologi—menghasilkan cara
pandang tertentu terhadap peran media, tujuan pembelajaran, dan proses desain
pembelajaran.
Beberapa
temuan penting yang muncul dalam diskusi kelompok meliputi:
- Ontologi Teknologi Pendidikan berfokus
pada “apa” yang menjadi objek kajian, yakni proses pembelajaran itu
sendiri.
- Epistemologi menjelaskan “bagaimana”
pengetahuan tentang pembelajaran dibangun melalui teori, riset, dan
praktik instruksional.
- Aksiologi menyoroti “untuk apa”
Teknologi Pendidikan digunakan, termasuk etika, nilai kemanusiaan, dan
kebermanfaatannya dalam konteks pendidikan.
Mahasiswa
juga diajak menganalisis bagaimana akar filosofis ini memengaruhi paradigma 1
Teknologi Pendidikan yang menekankan penggunaan media dan pendekatan sistemik
dalam pembelajaran. Mereka menemukan bahwa paradigma tersebut tidak hanya
teknis, tetapi juga filosofis karena mencerminkan pandangan tentang hakikat
belajar dan bagaimana pendidikan seharusnya difasilitasi.
Salah satu
mahasiswa mengemukakan refleksi bahwa pemahaman filosofis ini membuat mereka
lebih memahami alasan mengapa teknologi tertentu digunakan dalam pembelajaran,
bukan sekadar bagaimana menggunakannya. Diskusi pun berkembang pada isu
relevansi filosofi Teknologi Pendidikan di tengah perubahan besar akibat
kecerdasan buatan dan digitalisasi pendidikan.
Menutup perkuliahan, Prof. Mustaji menegaskan
bahwa akar filosofis merupakan pondasi utama bagi setiap calon doktor.
“Jika fondasinya kuat, kajian dan inovasi Anda akan
berdiri kokoh. Filosofi bukan sesuatu yang jauh dari praktik, justru menjadi
dasar semua keputusan desain dan implementasi pembelajaran,”
pesannya.
Dengan pemahaman ini, mahasiswa S3 UNESA semakin siap
melanjutkan kajian mendalam tentang paradigma Teknologi Pendidikan sebagai ilmu
yang terus berkembang dan semakin relevan dalam menjawab tantangan pendidikan
modern.