Peran Pendidikan Inklusif dalam Mewujudkan Kesetaraan Akses Belajar
Peran Pendidikan Inklusif dalam Mewujudkan Kesetaraan
Akses Belajar
Surabaya, 17 November 2025 —
Isu pemerataan akses pendidikan terus menjadi perhatian global, terutama dalam
upaya mewujudkan Sustainable Development Goal (SDG) 4 yang menekankan
pendidikan berkualitas dan inklusif bagi semua. Dalam konteks ini, perkuliahan
Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA mengangkat topik “Peran Pendidikan
Inklusif dalam Mewujudkan Kesetaraan Akses Belajar.” Topik ini diperdalam
bersama dosen pengampu Prof. Dr. Mustaji, M.Pd., yang menyoroti
pentingnya paradigma pendidikan inklusif sebagai pilar utama pendidikan modern.
Pendidikan Inklusif: Bukan Sekadar Kebijakan, tetapi
Nilai Kemanusiaan
Dalam penjelasannya, Prof. Mustaji menegaskan bahwa
pendidikan inklusif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap
institusi pendidikan yang ingin bergerak menuju keadilan sosial.
“Pendidikan inklusif adalah wujud penghormatan terhadap
martabat setiap manusia. Ia memastikan bahwa semua anak, tanpa kecuali,
memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang,” ungkapnya.
Beliau menekankan bahwa inklusivitas tidak hanya berkaitan
dengan peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga menyangkut keberagaman
sosial, ekonomi, budaya, bahasa, hingga gaya belajar.
Mengapa Pendidikan Inklusif Penting?
Dalam diskusi kelas, mahasiswa mengidentifikasi sejumlah alasan
mengapa pendidikan inklusif harus menjadi prioritas:
- Menjamin
keadilan akses belajar bagi semua peserta didik.
- Membangun
lingkungan pembelajaran yang menghargai perbedaan.
- Mengurangi
kesenjangan pendidikan antarwilayah dan antarkelompok sosial.
- Mendorong
perkembangan kompetensi sosial-emosional peserta didik.
- Menjadi
fondasi sistem pendidikan yang berkelanjutan dan berorientasi masa depan.
Konsep pendidikan inklusif juga dianggap relevan untuk
menciptakan generasi yang toleran, adaptif, dan mampu hidup berdampingan di
tengah keberagaman global.
Tantangan Implementasi Pendidikan Inklusif
Walaupun penting, implementasi pendidikan inklusif masih
menemui berbagai hambatan. Mahasiswa S3 UNESA menemukan sejumlah tantangan
signifikan, seperti:
- Kurangnya
pemahaman dan pelatihan guru tentang strategi pembelajaran inklusif.
- Minimnya
sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran adaptif.
- Kebijakan
sekolah yang belum sepenuhnya responsif terhadap keberagaman siswa.
- Keterbatasan
anggaran untuk mendukung layanan pendidikan khusus dan pendampingan.
- Resistensi
budaya yang masih memandang perbedaan sebagai kekurangan, bukan kekayaan.
Menurut Prof. Mustaji, tantangan ini tidak boleh menjadi
alasan untuk stagnasi.
“Inklusif berarti berani berubah. Sekolah harus siap
bertransformasi, guru harus terus belajar, dan pemerintah harus menyediakan
regulasi yang progresif,” tegasnya.
Strategi Penguatan Pendidikan Inklusif
Dalam sesi diskusi, mahasiswa mengusulkan sejumlah strategi
implementatif, di antaranya:
- Pelatihan
intensif bagi guru tentang diferensiasi pembelajaran.
- Pengintegrasian
teknologi untuk memfasilitasi pembelajaran adaptif.
- Penyediaan
pendamping atau shadow teacher bagi siswa berkebutuhan khusus.
- Kolaborasi
dengan psikolog, terapis, dan ahli pendidikan khusus.
- Pengembangan
budaya sekolah yang ramah keberagaman.
- Penyusunan
kebijakan inklusif yang tegas dan terukur.
Teknologi juga menjadi faktor penting, terutama dalam
menciptakan materi belajar yang fleksibel, aksesibel, dan dapat dipersonalisasi
sesuai kebutuhan peserta didik.
Refleksi Mahasiswa: Inklusivitas sebagai Arah Pendidikan
Masa Depan
Mahasiswa S3 menilai bahwa inklusivitas adalah fondasi
penting dalam membangun pendidikan yang berkeadilan. Seorang mahasiswa
mencatat:
“Pendidikan inklusif bukan hanya memenuhi tuntutan
kebijakan, tetapi membangun sekolah yang manusiawi dan menghargai perbedaan.”
Melalui pembahasan ini, mahasiswa memahami bahwa pendidikan
inklusif adalah bagian dari misi besar untuk membentuk masyarakat yang lebih
adil dan berkelanjutan.
Penutup
Kajian mengenai pendidikan inklusif ini mempertegas komitmen
UNESA dalam mendukung tujuan SDG 4: memastikan akses pendidikan berkualitas
bagi semua. Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA terus mendorong
pengembangan ilmu, penelitian, dan praktik lapangan yang mendukung terciptanya
pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan.