Peran Guru sebagai Fasilitator Psikososial dalam Pembelajaran Daring Bencana
Peran Guru sebagai Fasilitator Psikososial dalam
Pembelajaran Daring Bencana
Ketika bencana melanda Aceh dan Sumatra, pendidikan tidak hanya menghadapi
tantangan teknis, tetapi juga tantangan emosional. Dalam konteks ini, peran
guru sebagai fasilitator psikososial menjadi sangat penting. Pembelajaran
daring saat bencana bukan sekadar kegiatan akademik—ini juga tentang memelihara
kesehatan mental, harapan, dan rasa aman siswa.
Guru perlu memulai dari komunikasi empatik. Siswa mungkin mengalami
kehilangan rumah, perpindahan tempat tinggal, atau ketidakpastian sehari-hari.
Guru dapat melakukan check-in sederhana melalui pesan, menanyakan
kondisi siswa, dan memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita. Voice note 30
detik dari guru dapat memberikan efek positif yang besar.
Selanjutnya, guru harus menyesuaikan beban belajar. Tugas besar atau materi
sulit dapat meningkatkan stres. Pembelajaran daring di masa bencana harus
sederhana, realistis, dan memberi ruang fleksibilitas waktu. Aktivitas
reflektif seperti menulis pengalaman singkat atau mendokumentasikan lingkungan
sekitar bisa menjadi bentuk belajar yang sekaligus terapi.
Guru juga berperan dalam menjaga keterhubungan sosial. Interaksi kelompok
kecil melalui pesan teks atau diskusi ringan dapat membantu siswa merasa tidak
sendirian. Komunikasi tidak harus intensif; yang penting konsisten dan hangat.
Selain itu, guru perlu memahami bahwa keberhasilan di masa bencana bukan diukur dari capaian akademik, tetapi dari keberlanjutan proses belajar. Dengan menjadi fasilitator psikososial, guru membantu memastikan siswa tetap memiliki kekuatan mental untuk kembali ke ritme normal setelah krisis berlalu