Pentingnya Kurikulum Darurat untuk Pembelajaran Daring Saat Bencana
Pentingnya Kurikulum Darurat untuk Pembelajaran
Daring Saat Bencana
Bencana alam sering memaksa sekolah untuk menunda atau menyesuaikan proses
belajar. Kurikulum reguler yang padat materi tidak realistis diterapkan saat
siswa menghadapi keterbatasan akses, listrik, dan waktu belajar. Oleh karena
itu, kurikulum darurat menjadi kebutuhan mendesak di wilayah bencana seperti
Aceh dan Sumatra.
Kurikulum darurat fokus pada kompetensi inti, pengembangan keterampilan
penting, dan aktivitas yang relevan dengan situasi siswa. Materi dikurangi
menjadi yang paling esensial, sedangkan proyek atau tugas lebih diarahkan pada
pengalaman sehari-hari, observasi lingkungan, dan refleksi pribadi. Contohnya,
siswa bisa menulis pengalaman mereka selama bencana atau mendokumentasikan
lingkungan sekitar melalui foto sederhana.
Selain materi, kurikulum darurat juga menekankan fleksibilitas penilaian.
Evaluasi formatif lebih diutamakan daripada ujian sumatif. Guru memberikan
umpan balik secara berkala, tanpa menambah beban stres siswa. Hal ini membantu
menjaga motivasi belajar dan memelihara kontinuitas pendidikan.
Kurikulum darurat juga memungkinkan integrasi pembelajaran daring dan
offline. Materi bisa diakses melalui platform ringan, modul cetak, atau
komunikasi pesan singkat. Pendekatan ini membuat pembelajaran tetap berlangsung
meski infrastruktur terganggu.
Dengan kurikulum darurat, pendidikan tidak berhenti saat bencana. Siswa
tetap belajar, guru tetap membimbing, dan proses pendidikan menjadi lebih
manusiawi dan adaptif terhadap kondisi nyata di lapangan.