Pengembangan Platform EdTech Lokal Berbasis Budaya Aceh untuk PJJ Pascabencana
Pengembangan Platform EdTech Lokal Berbasis
Budaya Aceh untuk PJJ Pascabencana
Platform EdTech lokal berbasis budaya memiliki potensi strategis untuk
memperkuat PJJ pascabencana di Aceh. Selama ini, banyak platform pendidikan
menggunakan konten generik yang tidak selalu relevan dengan konteks lokal.
Dengan mengembangkan platform yang memadukan teknologi pendidikan dan kekayaan
budaya Aceh, siswa dapat belajar dengan lebih dekat pada identitas mereka. Hal
ini sangat penting bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana, karena
konten lokal membantu mereka membangun kembali rasa kedekatan dengan lingkungan
dan warisan budaya.
Platform EdTech lokal dapat memuat cerita rakyat Aceh, ilustrasi adat,
simbol daerah, serta materi mitigasi bencana berbasis pengalaman komunitas.
Selain itu, fitur aplikasi dapat menggunakan bahasa daerah sebagai pendukung
agar siswa yang belum sepenuhnya fasih bahasa Indonesia tetap dapat memahami
materi dengan baik. Pendekatan ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih
personal dan bermakna.
Agar platform ini efektif, konten harus dirancang oleh kolaborasi antara
guru lokal, ahli budaya, dan pengembang aplikasi. Guru berperan menyediakan
materi sesuai kurikulum, sedangkan ahli budaya memastikan bahwa konten lokal
disajikan secara otentik dan sensitif. Pengembang aplikasi kemudian mengemasnya
dalam antarmuka yang menarik, mudah digunakan, dan kompatibel dengan perangkat
sederhana.
Platform EdTech lokal juga harus menyediakan modul mitigasi bencana
berbasis pengalaman Aceh. Misalnya, simulasi digital tentang cara menyelamatkan
diri dari tsunami atau gempa. Materi ini tidak hanya relevan dengan kondisi
geografis, tetapi juga membantu siswa lebih siap menghadapi bencana di masa
mendatang. Dengan demikian, teknologi pendidikan tidak hanya berfokus pada
akademik, tetapi juga pada ketahanan masyarakat.
Tantangan dalam pengembangan platform lokal adalah pendanaan dan
ketersediaan tenaga ahli. Pemerintah daerah dapat memulai inisiatif ini melalui
kemitraan dengan startup lokal, universitas, dan lembaga budaya. Pendekatan
kolaboratif ini memungkinkan konten berkualitas dihasilkan tanpa biaya besar.
Selain itu, platform dapat dikembangkan secara bertahap, dimulai dengan modul
sederhana sebelum berkembang ke fitur lebih interaktif.
Platform EdTech lokal juga dapat mendukung pembelajaran offline. Siswa
dapat mengunduh materi ketika memiliki akses internet, lalu mempelajarinya
tanpa koneksi aktif. Fitur ini sangat penting mengingat banyak wilayah Aceh dan
Sumatra memiliki internet tidak stabil. Dengan demikian, platform tetap
inklusif bagi semua siswa.
Pada akhirnya, platform EdTech lokal berbasis budaya Aceh adalah langkah
inovatif untuk memastikan PJJ pascabencana tetap relevan, kontekstual, dan
memulihkan identitas siswa. Dengan kolaborasi multipihak dan dukungan
teknologi, platform ini dapat menjadi model pendidikan digital berbasis budaya
yang patut ditiru secara nasional.