PENGARUH GAYA KOGNITIF TERHADAP STRATEGI PEMBELAJARAN DAN PENCAPAIAN AKADEMIK
Oleh: August Lewaherilla
PROGRAM STUDI S3 TEKNOLOGI PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2025
Pendahuluan
Proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari perbedaan individu yang dimiliki setiap peserta didik. Prestasi Belajar atau hasil belajar yang dicapainya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Faktor internal yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Kemudian, faktor psikologis. Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat. Faktor eksternal yaitu lingkungan sosial. Lingkungan sosial bisa di sekolah bersama guru, administrasi, dan teman- teman sekelas, juga lingkungan sosial masyarakat.
Selain faktor internal dan faktor eksternal, salah satu aspek penting yang memengaruhi keberhasilan belajar adalah gaya kognitif. Witkin, dkk (1977) mengatakan gaya kognitif adalah cara individu mengorientasikan dirinya terhadap lingkungan, khususnya dalam membedakan informasi relevan dari latar belakang atau konteks. Sedangkan Messick (1976) menambahkan gaya kognitif merupakan cara karakteristik seseorang dalam memperoleh, mengorganisasi, dan mengolah informasi. Gaya ini bersifat relatif tetap dan mencerminkan keunikan berpikir setiap individu. Ridding dan Cheema (1991) berpendapat gaya kognitif adalah perbedaan sistematik dalam cara individu berpikir, mengingat, dan menyelesaikan masalah. Jadi dapat disimpulan bahwa gaya kognitif yaitu cara individu dalam mengolah, menginterpretasi, dan merespons informasi. Gaya kognitif juga merupakan karakteristik bawaan yang relatif stabil dan memengaruhi bagaimana seseorang belajar serta berinteraksi dengan lingkungannya.
Perbedaan gaya kognitif membuat setiap peserta didik memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memilih strategi belajar. Misalnya, siswa dengan gaya kognitif reflektif cenderung berhati-hati dan sistematis dalam memecahkan masalah, sementara siswa dengan gaya impulsif cenderung cepat namun kurang akurat (Kagan: 1965). Begitu pula siswa yang bersifat field-independent biasanya mampu belajar secara mandiri dan analitis, sedangkan field- dependent lebih menyukai bimbingan dan pembelajaran berbasis sosial (Witkin, dkk: 1991).
Strategi pembelajaran yang sesuai dengan gaya kognitif individu diyakini dapat meningkatkan efektivitas belajar dan pada akhirnya berkontribusi terhadap pencapaian akademik yang optimal. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran di kelas sering kali belum mempertimbangkan perbedaan ini. Guru atau dosen cenderung menggunakan pendekatan seragam, tanpa menyesuaikan strategi pengajaran dengan kebutuhan dan karakteristik kognitif siswa. Sudjana (2005) berpendapat strategi pembelajaran yang efektif adalah strategi yang
mempertimbangkan perbedaan individual siswa, termasuk perbedaan dalam gaya kognitif. Apabila strategi yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik siswa, maka proses pembelajaran tidak akan optimal. Djamarah (2010) menambahkan setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru perlu mengenal karakteristik kognitif siswa agar bisa memilih strategi pembelajaran yang tepat dan tidak menyamaratakan pendekatan. Dimyati & Mudjiono (2006) menjelaskan keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi antara strategi pembelajaran yang digunakan guru dan gaya belajar serta kemampuan kognitif siswa. Ketidaksesuaian antara keduanya dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar.
Ketika strategi pembelajaran tidak sesuai dengan gaya kognitif siswa, efektivitas pembelajaran menjadi rendah. Siswa merasa kesulitan memahami materi, tidak terlibat secara aktif, bahkan mengalami kejenuhan. Hal ini dapat berdampak pada rendahnya motivasi belajar dan pencapaian akademik. Guru yang tidak mengenali perbedaan ini mungkin salah menilai kemampuan siswa, padahal masalah utamanya adalah ketidakcocokan pendekatan belajar dengan cara berpikir siswa. Hal ini dapat membuat pembelajaran tidak mencapai tujuannya secara maksimal. Oleh karena itu, guru perlu melakukan identifikasi awal terhadap perbedaan gaya belajar dan kemampuan berpikir siswa.
Gaya Kognitif
Sternberg (1997) berpendapat gaya kognitif merupakan cara khas individu dalam menggunakan kemampuan berpikirnya. Menyesuaikan pendekatan belajar dengan gaya berpikir akan meningkatkan hasil pembelajaran. Witkin (1977) mengatakan bahwa field dependent yaitu, individu yang cenderung melihat sesuatu secara menyeluruh, lebih terpengaruh oleh lingkungan, dan lebih suka pembelajaran yang bersifat sosial (diskusi kelompok, bimbingan guru). Sedangkan field independent adalah individu yang cenderung lebih analitis, mampu membedakan detail dari latar belakangnya, lebih suka belajar mandiri, dan cenderung berpikir logis. Paivio (1986) menambahkan informasi diproses melalui dua sistem: verbal dan non-verbal (visual). Gaya belajar seseorang bisa lebih dominan secara visual atau verbal, dan ini mempengaruhi strategi belajar yang paling efektif untuk siswa.
Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah cara-cara atau pendekatan yang digunakan oleh peserta didik untuk memperoleh, mengolah, dan mengingat informasi secara efektif selama proses belajar. Menurut Weinstein & Mayer (1986), strategi pembelajaran adalah “behavioral and cognitive techniques that learners use to influence how they process information and how well they learn.”
Jenis-jenis strategi pembelajaran kognitif menurut Weinstein dan Mayer (1986) terdiri dari beberapa kategori utama, antara lain strategi rehearsal (Pengulangan), Strategi elaborasi, yaitu mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. strategi organisasi, menyusun informasi dalam bentuk yang lebih terstruktur. Contohnya membuat peta konsep, outline. Strategi comprehension monitoring (pemantauan pemahaman), kemampuan untuk menyadari apakah materi telah dipahami atau belum. Strategi affective (afektif), yang berhubungan dengan motivasi dan sikap terhadap belajar. Dansereau (1985) membedakan strategi belajar menjadi dua kelompok: 1) Primary learning strategies, yaitu untuk membantu pemahaman dan pengolahan informasi dan support strategies (Pendukung), yaitu membantu agar strategi utama dapat berjalan efektif seperti pengaturan waktu belajar dan lingkungan belajar. Gagne & Driscoll (1988) menjelaskan bahwa strategi belajar mencakup cara-cara yang dipilih oleh siswa untuk mengontrol proses belajar, yang meliputi: strategi pemrosesan informasi (Pengulangan, asosiasi, kategorisasi) dan strategi metakognitif (Merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajar).
Pencapaian akademik
Berdasarkan uraian diatas, hubungan antara gaya kognitif dan pemilihan strategi sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran siswa dalam pencapaian akademik siswa. Masing- masing siswa mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menggunakan cara berpikirnya. Pencapaian akademik (academic achievement) adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalam suatu jenjang pendidikan. Pencapaian ini mencerminkan kemampuan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan dari suatu mata pelajaran atau program pendidikan. Menurut Bloom (1956), pencapaian akademik dapat mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan fisik).
Berdasarkan hasil kajian pustaka, ditemukan bahwa gaya kognitif berperan penting dalam pemilihan dan efektivitas strategi pembelajaran yang digunakan siswa. Misalnya, individu dengan gaya field independent (FI) cenderung lebih menyukai strategi elaborasi, organisasi, dan belajar mandiri, karena mereka mampu memproses informasi secara analitis dan tidak tergantung pada konteks sosial. Analisis data Ali dan Hasan (2015) menunjukkan bahwa gaya kognitif field independent pada siswa dalam lingkungan formal memberikan mereka kemampuan untuk meraih pencapaian akademik yang baik Sebaliknya, individu dengan gaya field dependent (FD) lebih menyukai strategi sosial dan kolaboratif, serta lebih terbantu dalam situasi belajar berbasis konteks atau diskusi kelompok(Witkin etal., 1977).
Demikian pula, siswa visual cenderung memilih strategi dengan penggunaan diagram, gambar, peta konsep, sedangkan siswa verbal lebih efektif menggunakan catatan teks, membaca keras, atau membuat ringkasan tertulis (Felder & Silverman, 1988). Adapun siswa reflektif cenderung melakukan strategi self-questioning dan monitoring, sementara siswa impulsif lebih cepat mengambil keputusan namun rentan terhadap kesalahan sehingga membutuhkan bimbingan strategi regulasi diri (Kagan, 1965).
Kesimpulan
Oleh uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya kognitif merupakan faktor penting yang memengaruhi pemilihan strategi pembelajaran siswa, yang pada akhirnya berdampak signifikan terhadap pencapaian akademik. Gaya kognitif seperti field independent vs. field dependent, reflektif vs. impulsif, dan visual vs. verbal menunjukkan bahwa setiap individu memiliki cara unik dalam memproses informasi, mengatur pembelajaran, dan merespon tugas akademik.
Strategi pembelajaran seperti elaborasi, organisasi, pencatatan, dan self-questioning akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan karakteristik gaya berpikir siswa. Ketidaksesuaian antara strategi belajar dan gaya kognitif dapat menyebabkan kesulitan dalam memahami materi, rendahnya motivasi belajar, dan pencapaian akademik yang kurang optimal.
Dengan demikian, pengenalan dan pemahaman terhadap gaya kognitif siswa penting bagi guru dan pendidik dalam merancang pendekatan pembelajaran yang tepat. Pembelajaran yang diferensiatif, adaptif, dan berpusat pada karakteristik kognitif siswa akan meningkatkan efektivitas pembelajaran dan pencapaian hasil belajar secara keseluruhan.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil kajian dan kesimpulan yang diperoleh, maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Bagi Guru dan Pendidik
· Disarankan untuk mengidentifikasi gaya kognitif siswa sejak awal proses pembelajaran melalui observasi,
tes diagnostik, atau angket gaya belajar.
· Guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi dan fleksibel agar
mampu mengakomodasi keberagaman gaya kognitif siswa di kelas.
· Dalam praktik mengajar, penting untuk mengintegrasikan media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya visual, verbal, reflektif, maupun impulsif.
2. Bagi pengembang kurikulum dan kebijakan
pendidikan
· Kurikulum hendaknya mendukung pendekatan pembelajaran diferensiatif yang mempertimbangkan perbedaan gaya kognitif siswa.
· Lembaga pendidikan sebaiknya memberikan pelatihan guru secara berkala terkait implementasi pembelajaran berbasis gaya kognitif dan strategi belajar.
Daftar Pustaka
Ali Yazdanpanah Nozari dan Hasan Siamian. 2015. The Relationship between Field Dependent- Independent Cognitive Style and Understanding of English Text Reading and Academic Success. DOI: 10.5455/msm.2014.27.39-41;
Bloom, B. S. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals. New York: David McKay Company;
Dansereau, D. F. (1985). Learning strategy research. In J. W. Segal, S. F. Chipman, & R. Glaser (Eds.), Thinking and learning skills (pp. 209–239). Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum;
Dimyati & Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta; Djamarah, S. B., & Zain, A. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta;
Gagné, R. M., & Driscoll, M. P. (1988). Essentials of learning for instruction (2nd ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Gusnarib Wahab dan Rosnawati. 2021. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Penerbit Adab.
Indramayu;
Kagan, J. (1965). Impulsive and reflective children: Significance for learning. In J. D. Krumboltz (Ed.), Learning and the educational process (pp. 133–161). Chicago: Rand McNally;
Paivio, A. (1986). Mental representations: A dual coding approach. Oxford University Press. Riding, R., & Cheema, I. (1991). Cognitive styles—An overview and integration. Educational
Psychology, 11(3–4), 193–215;
Sternberg, R. J. (1997). Thinking styles. Cambridge University Press;
Sudjana, N. (2005). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo; Weinstein, C. E., & Mayer, R. E. (1986). The teaching of learning strategies. In M. Wittrock (Ed.),
Handbook of research on teaching (3rd ed., pp. 315–327). New York: Macmillan;
Witkin, H. A., Moore, C. A., Goodenough, D. R., & Cox, P. W. (1977). Field-dependent and field- independent cognitive styles and their educational implications. Review of Educational Research, 47(1), 1–64;