Pendekatan Human-Centered Learning untuk Pembelajaran Jarak Jauh bagi Korban Bencana di Aceh dan Sumatra
Pendekatan
Human-Centered Learning untuk Pembelajaran Jarak Jauh bagi Korban Bencana di
Aceh dan Sumatra
Pembelajaran jarak jauh untuk korban bencana tidak cukup
hanya dengan menyediakan perangkat dan koneksi internet. Yang lebih penting
adalah memastikan bahwa sistem yang dibangun benar-benar menempatkan kebutuhan
manusia sebagai pusatnya—khususnya siswa, guru, dan keluarga yang sedang
mengalami tekanan psikologis akibat kehilangan rumah, perpindahan lokasi, atau
ketidakpastian hidup. Pendekatan human-centered
learning menawarkan konsep bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi harus
dirancang sesuai konteks emosional, sosial, dan budaya masyarakat. Di Aceh dan
Sumatra, ini berarti menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya efektif
secara akademik, tetapi juga menenangkan, inklusif, dan memberikan rasa aman.
Pertama, pendekatan human-centered mengharuskan proses
belajar dirancang dengan empati. Guru perlu memahami kondisi mental siswa
yang mungkin sedang mengalami trauma. Platform pembelajaran harus menyediakan materi yang lebih
ramah, ringan, dan tidak menambah tekanan. Misalnya, aktivitas belajar
menggunakan video pendek yang menenangkan, ilustrasi positif, atau modul
refleksi sederhana dapat membantu siswa merasa lebih stabil. Fitur-fitur
seperti notifikasi lembut, pengingat bijaksana, dan tampilan visual yang
menenangkan sangat membantu dalam mendukung kesehatan mental selama masa
pemulihan pascabencana.
Kedua, pembelajaran harus memberikan fleksibilitas penuh
dalam hal waktu, metode, dan ritme belajar. Keluarga yang berada di pengungsian
sering kali tidak memiliki jadwal yang teratur. Karena itu, materi harus dapat
diakses kapan saja tanpa memaksa siswa mengikuti jadwal real-time. Guru dapat
menggunakan model asynchronous, di mana siswa belajar secara mandiri dan
mengumpulkan tugas tanpa tekanan batas waktu ketat. Fleksibilitas ini
memberikan ruang bagi keluarga untuk mengatur prioritas antara kebutuhan hidup
dasar dan pendidikan.
Ketiga, teknologi pendidikan berbasis human-centered harus
menjaga koneksi sosial, karena dukungan sosial merupakan kebutuhan penting bagi
korban bencana. Fitur-fitur sederhana seperti forum aman, ruang diskusi kecil,
atau sesi obrolan singkat antara guru dan siswa bisa menjadi sarana menjaga
kohesi kelas. Interaksi tidak perlu intens atau berformat formal; cukup
percakapan ringan atau dukungan emosional yang menunjukkan bahwa siswa tidak
sendirian. Hal ini dapat membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan motivasi
belajar.
Keempat, pembelajaran human-centered harus mengakui bahwa
keluarga adalah bagian dari ekosistem belajar. Di masa krisis, orang tua
menjadi pendamping utama. Karena itu, platform pembelajaran harus menyediakan
panduan sederhana untuk orang tua. Bukan panduan akademik rumit, melainkan
dukungan praktis seperti cara membantu anak tetap fokus, mengatur waktu, atau
memberikan motivasi. Materi harus ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan
tidak menambah beban baru bagi keluarga.
Kelima, pembelajaran harus berorientasi pada kebermaknaan,
bukan sekadar penyelesaian kurikulum. Guru dapat memasukkan proyek-proyek yang
relevan dengan kondisi lingkungan setempat, seperti membuat jurnal pengalaman,
dokumentasi proses pemulihan desa, atau refleksi tentang ketangguhan diri.
Dengan demikian, pendidikan menjadi sarana penyembuhan, bukan tekanan tambahan.
Dengan
menerapkan pendekatan human-centered learning, pembelajaran jarak jauh bagi
korban bencana di Aceh dan Sumatra akan menjadi lebih manusiawi, relevan, dan
efektif. Teknologi bukan hanya penyampai materi, tetapi menjadi
jembatan penyembuhan dan penguatan mental di masa-masa sulit.