Pemerataan Akses Pendidikan: Mahasiswa S3 Analisis Tantangan dan Strategi Implementasi di Indonesia
Pemerataan Akses Pendidikan: Mahasiswa S3 Analisis
Tantangan dan Strategi Implementasi di Indonesia
Surabaya, 16 November 2025 —
Pemerataan akses pendidikan masih menjadi salah satu isu utama dalam pemenuhan
Sustainable Development Goal (SDG) 4 yang menekankan pendidikan berkualitas,
inklusif, dan merata. Dalam perkuliahan Program Doktor Teknologi Pendidikan
UNESA, mahasiswa mendalami topik “Pemerataan Akses Pendidikan: Tantangan dan
Strategi Implementasi di Indonesia.†Diskusi ini dipimpin oleh Prof. Dr.
Mustaji, M.Pd., yang memberikan perspektif komprehensif mengenai
ketimpangan akses pendidikan serta peran Teknologi Pendidikan dalam
menjembatani kesenjangan tersebut.
Ketimpangan Akses yang Masih Terjadi
Dalam pengantar diskusi, Prof. Mustaji menekankan bahwa
meskipun Indonesia telah banyak berupaya memperluas akses pendidikan melalui
berbagai kebijakan, kesenjangan masih terasa, terutama antara wilayah perkotaan
dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Akses pendidikan tidak hanya soal gedung sekolah atau
jumlah guru, tetapi sejauh mana peserta didik bisa mengakses pengalaman
pembelajaran secara setara,†jelasnya.
Beliau memaparkan sejumlah tantangan utama seperti:
- distribusi
guru yang belum merata,
- keterbatasan
infrastruktur digital,
- kondisi
geografis yang sulit dijangkau,
- perbedaan
tingkat literasi teknologi,
- serta
hambatan sosial-ekonomi keluarga.
Kondisi ini membuat banyak peserta didik berada dalam
situasi pembelajaran yang tidak setara.
Analisis Mahasiswa S3: Akar Masalah dan Peta Tantangan
Dalam sesi diskusi kelompok, mahasiswa S3 diminta
mengidentifikasi akar masalah pemerataan akses pendidikan berdasarkan
pengalaman lapangan dan kajian akademik.
Beberapa temuan mahasiswa antara lain:
- Kualitas
layanan pendidikan berbeda antarwilayah
Sekolah perkotaan cenderung memiliki fasilitas digital lengkap, sedangkan sekolah pedesaan masih kekurangan perangkat dasar. - Konektivitas
internet menjadi hambatan utama pembelajaran digital
Terutama dalam pembelajaran daring pasca pandemi. - Kurangnya
pelatihan guru dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran
Membuat kesenjangan kualitas pembelajaran semakin lebar. - Minimnya
konten pembelajaran yang kontekstual dan ramah akses
Membatasi kesempatan belajar bagi anak dari keluarga ekonomi rendah.
Seorang mahasiswa menegaskan:
“Pemerataan tidak cukup hanya dengan menyediakan
fasilitas. Pendidikan harus bisa diakses secara adil oleh siswa dengan berbagai
keterbatasan.â€
Strategi Implementasi: Teknologi Pendidikan Sebagai
Solusi
Sebagai solusi, mahasiswa merumuskan sejumlah strategi
berbasis Teknologi Pendidikan untuk memperkuat pemerataan akses, antara lain:
- pengembangan
offline learning system bagi daerah tanpa internet,
- penyediaan
konten pembelajaran yang ringan dan mudah diakses,
- pelatihan
guru berbasis digital untuk meningkatkan kompetensi,
- kerja
sama akademik antara perguruan tinggi dan pemerintah,
- pengembangan
media edukasi berbasis fitur aksesibilitas (audio, subtitle, screen
reader).
Prof. Mustaji menguatkan gagasan tersebut dengan
menyampaikan:
“Teknologi Pendidikan bukan hanya soal perangkat digital.
Ini soal bagaimana kita merancang solusi belajar agar semua anak, di mana pun
berada, tetap memiliki kesempatan yang sama.â€
Beliau menambahkan bahwa mahasiswa doktoral harus berperan
sebagai perancang kebijakan dan inovasi, bukan hanya pengamat akademik.
Penutup: Jalan Panjang Menuju Pendidikan Merata
Diskusi ini menegaskan bahwa pemerataan akses pendidikan
merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah,
lembaga pendidikan, masyarakat, dan peneliti Teknologi Pendidikan. Mahasiswa S3
UNESA diharapkan menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Perkuliahan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pencapaian
SDG 4 tidak hanya diukur melalui angka partisipasi sekolah, tetapi melalui
kualitas dan kesetaraan pembelajaran yang benar-benar dapat dirasakan oleh
seluruh peserta didik Indonesia.