Pembelajaran Fleksibel, Disiplin yang Lentur: Tantangan Mahasiswa di Era Hybrid Learning
Pembelajaran Fleksibel, Disiplin yang Lentur: Tantangan Mahasiswa di Era Hybrid Learning
Era pascapandemi membawa perubahan besar pada wajah pendidikan tinggi. Konsep hybrid learning — perpaduan antara pembelajaran daring dan tatap muka — kini menjadi model dominan di banyak universitas. Fleksibilitas waktu dan tempat menjadi keunggulan utama sistem ini, memungkinkan mahasiswa menyesuaikan ritme belajar dengan aktivitas pribadi. Namun, di balik kebebasan itu tersembunyi tantangan yang tidak ringan: menjaga disiplin dan konsistensi dalam belajar mandiri.
Salah satu daya tarik hybrid learning adalah otonomi. Mahasiswa dapat mengatur sendiri kapan dan di mana mereka belajar, mengakses materi kuliah secara asinkron, serta memilih format pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajarnya. Konsep ini sejalan dengan prinsip andragogi—pembelajaran orang dewasa yang menekankan kemandirian dan tanggung jawab personal. Namun dalam praktiknya, fleksibilitas sering kali berubah menjadi jebakan bagi mahasiswa yang belum terbiasa mengelola waktu secara efektif.
Tanpa struktur yang ketat seperti jadwal tatap muka, sebagian mahasiswa mengalami penurunan motivasi, kedisiplinan, dan fokus. Gangguan dari lingkungan digital—mulai dari media sosial hingga notifikasi pesan—menjadi distraksi yang konstan. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan dalam pembelajaran hybrid sangat bergantung pada kemampuan self-regulated learning (pembelajaran yang diatur sendiri). Mahasiswa yang mampu menetapkan tujuan, mengontrol waktu, dan memonitor kemajuan belajarnya akan jauh lebih berhasil dalam sistem ini.
Dosen memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa membangun keterampilan ini. Strategi seperti learning contract, refleksi mingguan, dan umpan balik berkelanjutan dapat membantu mahasiswa tetap terarah tanpa merasa terkekang. Selain itu, pendekatan flipped classroom—di mana mahasiswa mempelajari materi dasar secara daring lalu mendiskusikannya secara langsung—terbukti meningkatkan keterlibatan aktif.
Fleksibilitas juga menuntut perubahan cara pandang terhadap konsep disiplin. Di era digital, disiplin bukan lagi soal hadir tepat waktu di kelas, melainkan kemampuan menjaga komitmen belajar di tengah ketiadaan pengawasan langsung. Disiplin yang lentur berarti mampu beradaptasi dengan situasi tanpa kehilangan arah dan tanggung jawab akademik.
Model hybrid learning membuka peluang besar bagi pembelajaran yang lebih personal dan inklusif. Namun, kesuksesan sistem ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau desain kurikulum, melainkan oleh kesadaran mahasiswa untuk menjadi pembelajar mandiri. Kebebasan belajar tanpa disiplin hanya akan menghasilkan kebingungan, sedangkan disiplin tanpa fleksibilitas akan membunuh kreativitas. Tantangan pendidikan masa kini adalah menemukan keseimbangan di antara keduanya.
Tim Redaksi – Ahmad Adib Wicaksono