Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan: Model Problem-based Lerning berbantuan Artificial Intelligence sebagai sebuah alternatif
Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan: Model Problem-based Lerning berbantuan Artificial Intelligence sebagai sebuah alternatif
Dimas Danar Septiadi
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan,
Universitas Negeri Surabaya
Seiring berjalannya waktu, kemajuan kecerdasan buatan sudah tidak dapat dielakkan lagi. Namun sayangnya, keberadaan AI justru terkadang menyesatkan, terutama untuk menyebarkan berita hoax. Oleh sebab itu, beberapa orang masih menganggap pembelajaran dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) masih merupakan hal yang tabu. Padahal sahabat Nabi, Ali bin Abu Tholib, sudah menyerukan bahwa “didiklah anakmu sesuai zamannya”. Sebagai seorang pakar teknologi Pendidikan, fenomena ini haruslah menjadi sebuah tantangan. Hal yang dianggap tabu harus mampu diubah menjadi hal yang bisa dianggap wajar dengan menggunakan cara yang humanis dan saintifik. Begitu pula dalam pembelajaran pada jenjang Pendidikan tinggi, khususnya bagi calon guru matematika dan matematikawan. Perkembangan teknologi seperti AI, harus dimanfaatkan dengan bijak. Terutama untuk memecahkan kesulitan terbesar bagi mahasiswa matematika maupun Pendidikan matematika yang terletak pada bagaimana membuktikan dan menemukan sebuah teorema.
Pembuktian Teorema matematika sebagai sebuah pondasi berpikir
Carreira (2020) dan Masfingatin (2019) menyatakan bahwa memecahkan masalah pembuktian teorema matematika membutuhkan kemampuan berpikir deduktif. Hal ini menunjukkan bahwa mengajarkan mahasiswa calon guru matematika dan calon matematikawan untuk membuktikan teorema, tidak hanya berhenti sampai pada teorema tersebut terbukti. Namun, membangun konsep dan memahami sebuah pola dalam pembuktian, dapat melatih kemampuan berpikir seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Saul McLeod (Mcleod, 2023) tentang konstruktivisme dalam pembelajaran pembuktian teorema. Sejalan dengan Carreira dan Masfingatin, McLeod mengatakan bahwa proses berpikir dalam pembuktian teorema tersebut melibatkan konstruksi berpikir atas pemecahan masalah pembuktian teorema.
Model PBL berbantuan AI sebagai sebuah alternatif
Model PBL berbantuan AI merupakan sebuah alternatif untuk mengajarkan pemecahan masalah dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI), terutama dalam membuktikan sebuah teorema. Banyak matematikawan yang menggunakan model Problem-Based Learning (PBL) sebagai model untuk mengajarkan pembuktian teorema sebelum AI berkembang. Selain itu, dalam pembelajaran berorientasi pada technological pedagogical content knowledge (TPACK), keberadaan AI sangat berarti. Keberadaan model PBL+AI memadukan prinsip model PBL dan penggunaan AI dalam pembelajaran. Model ini dapat memunculkan penggunaan AI sebagai bagian dari sintaks pembelajaran. Bukan berarti AI hanya dijadikan sebagai tools untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran, namun keberadaan AI lebih berperan sebagai sebuah scaffolding dalam mengkonstruksi ide dan pola dalam memecahkan masalah. Oleh sebab itu, model PBL berbantuan AI berpijak pada teori Gürefe et al (2024) yang menyatakan bahwa kemampuan spasial anak dapat dilatihkan dengan mengoptimalisasikan AI. Namun, Gürefe belum memberikan standar baku kapan dan bagaimana AI digunakan untuk membangun kemampuan spasial. Oleh sebab itu, PBL+AI, dengan sintaks baku, membantu guru dalam memandu pembelajaran kapan dan bagaimana AI digunakan untuk memberikan scaffolding dalam pembelajaran.
Tantangan penggunaan model PBL+AI
Tentu saja, perubahan tidak akan pernah berjalan mulus. Begitu pula keberadaan model PBL berbantuan AI. Tantangan terbesar dalam menerapkan model PBL berbantuan AI terletak pada bagaimana guru/dosen dalam memandu siswa untuk membuat prompt dalam membuktikan sebuah teorema. Membuat sebuah prompt yang tepat, bukan sebuah perkara yang mudah dan remeh temeh. Apabila prompt yang diajukan kurang sesuai, maka hasil yang diberikan juga akan kurang sesuai dan bahkan tidak menginspirasi siswa berpikir lebih lanjut. Hal ini, sesuai dengan prinsip PBAI dimana keberadaan AI digunakan untuk proses scaffolding. Tantangan bagi Guru terutama bagi Gen baby boomers dan Gen Millenial adalah sejauh mana dan bagaimana pengetahuan mereka tentang kecerdasan buatan memadai untuk memfasilitasi GenZ dan Gen Alpha untuk belajar. Oleh sebab itu, hakikatnya, model PBAI tidak hanya menuntut siswa untuk belajar, tetapi juga menuntut guru dan dosen untuk belajar Kembali dan menguasai teknologi informasi secara komprehensif untuk memfasilitasi belajar. (dds, red)
Carreira, S., Amado, N., & Jacinto, H. (2020). Venues for analytical reasoning problems: How children produce deductive reasoning. Education Sciences, 10(6), 1–23. https://doi.org/10.3390/educsci10060169
Masfingatin, T., & Maharani, S. (2019). Computational thinking: Students on proving geometry theorem. International Journal of Scientific and Technology Research, 8(9), 2216–2223.
Mcleod, S. (2023). Constructivism Learning Theory & Philosophy of Education. Www.Simplypsychology.Org, 1–14. https://www.simplypsychology.org/constructivism.html#Constructivism-Philosophy
Gürefe, N., Sarpkaya Aktaş, G., & Öksüz, H. (2024). Investigating the Impact of the AI-Supported 5E (AI-s5E) Instructional Model on Spatial Ability. Behavioral Sciences, 14(8). https://doi.org/10.3390/bs14080682