Pemanfaatan Teknologi Low- Tech untuk Pembelajaran Darurat bagi Korban Bencana di Aceh dan Sumatra
Pemanfaatan Teknologi Low-
Tech untuk Pembelajaran Darurat bagi Korban Bencana di Aceh dan Sumatra
Pembelajaran jarak jauh sering kali
dipahami sebagai penggunaan teknologi canggih seperti platform video
konferensi, sistem manajemen pembelajaran, atau aplikasi berbasis internet
berkecepatan tinggi. Namun, pemahaman ini tidak selalu relevan dalam konteks
bencana di Aceh dan Sumatra. Ketika banjir besar, gempa bumi, atau tanah
longsor menghancurkan infrastruktur dan memutus akses listrik, teknologi
canggih justru menjadi tidak dapat digunakan. Oleh karena itu, teknologi
pendidikan dalam situasi darurat perlu bergeser ke model low-tech yang tetap efektif meski dalam keterbatasan ekstrem.
Pemanfaatan perangkat sederhana seperti ponsel jadul, radio, modul cetak, dan
rekaman suara dapat menjadi solusi yang jauh lebih praktis, mudah dijangkau,
dan merata bagi semua siswa pengungsi.
Penggunaan radio pendidikan, misalnya,
merupakan bentuk teknologi low-tech
yang sangat efektif untuk menjangkau wilayah terdampak. Radio tidak membutuhkan
internet, dapat dioperasikan dengan baterai, dan mampu menjangkau banyak siswa
sekaligus. Program pembelajaran melalui radio sudah diterapkan di beberapa
negara pada masa darurat dan terbukti mampu mempertahankan aktivitas belajar
meski kondisi fisik lingkungan tidak stabil. Di Aceh dan Sumatra, pemerintah
daerah dapat bekerja sama dengan lembaga penyiaran lokal untuk menayangkan
materi mata pelajaran inti pada jam tertentu sehingga siswa tetap memiliki
jadwal belajar yang teratur.
Selain radio, penggunaan pesan suara
melalui ponsel feature phone juga
bisa dimaksimalkan. Banyak siswa mungkin tidak memiliki smartphone, tetapi
masih memiliki akses ke ponsel sederhana yang mampu menerima SMS dan panggilan.
Guru dapat merekam materi dalam bentuk audio berdurasi pendek lalu
mengirimkannya ke orang tua atau wali pengungsi. Pesan suara ini mudah didengar
ulang, ukurannya kecil, dan tidak membutuhkan aplikasi khusus. Dengan cara ini,
guru tetap dapat memberikan penjelasan langsung meski akses internet terbatas
atau tidak tersedia.
Strategi low-tech selanjutnya adalah pemanfaatan modul cetak. Modul cetak
sangat penting dalam pendidikan darurat karena tidak bergantung pada perangkat
elektronik. Modul dapat diberikan dalam bentuk paket buku kecil yang berisi
penjelasan materi, aktivitas sederhana, dan tugas reflektif. Pengemasannya
harus tahan air dan ringkas agar mudah dibawa dalam kondisi pengungsian. Modul
cetak dapat dibagikan oleh relawan pendidikan, guru, atau lembaga kemanusiaan
yang memasuki daerah terdampak. Keunggulan modul cetak adalah fleksibilitasnya,
karena siswa dapat belajar kapan saja tanpa perlu menunggu sinyal atau
perangkat tertentu.
Pelatihan
cepat bagi guru dalam merancang materi low-tech
juga sangat penting. Guru perlu dilatih untuk menyesuaikan materi pelajaran
menjadi lebih ringkas, sistematis, dan tidak bergantung pada elemen visual
rumit. Selain itu, guru harus memahami teknik membuat instruksi pembelajaran
yang sangat jelas karena dalam model low-tech,
interaksi langsung dengan siswa sifatnya terbatas.
Menggabungkan
berbagai bentuk teknologi low-tech
ini menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan realistis untuk siswa
korban bencana. Teknologi bukan sekadar alat modern yang kompleks, tetapi
segala bentuk media yang dapat membantu siswa terus belajar meski dalam keadaan
sulit. Dengan strategi yang tepat, pendidikan tetap dapat berjalan meski
infrastruktur runtuh, jaringan rusak, dan sumber daya terbatas. Pendekatan low-tech inilah yang menjadi harapan
nyata bagi pendidikan jarak jauh di wilayah bencana Aceh dan Sumatra.