Model Pembelajaran Daring Humanis untuk Anak Pengungsi Bencana di Aceh dan Sumatra
Model Pembelajaran Daring Humanis untuk Anak Pengungsi Bencana di Aceh dan
Sumatra
Pembelajaran jarak jauh untuk anak
pengungsi bencana di Aceh dan Sumatra tidak cukup hanya mengandalkan teknologi;
ia membutuhkan pendekatan humanis yang memperhatikan kondisi emosional,
psikologis, dan sosial siswa. Ketika banjir, gempa, atau longsor memaksa
keluarga untuk mengungsi, anak-anak kehilangan bukan hanya rumah dan ruang
aman, tetapi juga rutinitas, teman sebaya, serta rasa stabilitas. Dalam situasi
seperti ini, pembelajaran daring harus dirancang menjadi ruang pemulihan
sekaligus ruang belajar. Guru perlu menghadirkan aktivitas yang menguatkan
mental, menciptakan koneksi emosional, dan membuat siswa merasa didengar.
Pendekatan humanis ini memastikan bahwa pendidikan tidak hanya berjalan, tetapi
juga relevan dengan kebutuhan anak yang sedang mengalami krisis.
Model pembelajaran daring humanis dapat
dimulai dengan menghadirkan sesi pertemuan sinkron sederhana, misalnya tiga
kali seminggu dalam durasi singkat. Sesi ini tidak hanya berfokus pada materi
akademik, tetapi juga memberikan waktu bagi siswa untuk bercerita tentang
kondisi mereka. Anak-anak yang terdampak bencana sering membawa kecemasan dan
ketakutan, sehingga ruang diskusi digital menjadi media aman untuk
mengekspresikan perasaan. Guru dapat menggunakan teknik check-in emosional, seperti meminta siswa memilih ikon emosi atau
menceritakan tiga hal baik yang mereka alami hari itu. Praktik seperti ini
membantu mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang selama masa bencana.
Dari sisi materi, pembelajaran humanis
menekankan fleksibilitas. Guru dapat menyesuaikan target belajar, mengurangi
tugas berat, serta menggunakan metode yang memudahkan siswa mengakses materi
meskipun internet tidak stabil. Konten video pendek, modul visual, dan kuis
interaktif dapat membantu menjaga keterlibatan siswa tanpa membebani mereka.
Selain itu, guru dapat memberikan opsi bagi siswa untuk mengerjakan tugas
melalui berbagai format, seperti suara, gambar, atau tulisan singkat. Hal ini
memberi ruang bagi anak yang mengalami keterbatasan perangkat atau kondisi
fisik di lokasi pengungsian.
Selain guru, orang tua dan relawan
pendidikan juga memiliki peran dalam model ini. Mereka dapat membantu
menciptakan lingkungan belajar sederhana, meskipun kecil dan terbatas.
Kehadiran tokoh dewasa yang memberi dukungan emosional terbukti meningkatkan motivasi
belajar anak, terutama dalam situasi bencana. Relawan dapat menjadi fasilitator
yang membantu anak memahami instruksi guru, mengorganisasi tugas, dan
memastikan mereka tetap terhubung dengan kegiatan pembelajaran.
Pemerintah
dan lembaga kemanusiaan dapat memperkuat model ini dengan menyediakan ruang
aman belajar di pengungsian, seperti tenda belajar atau child-friendly center. Ruang ini dapat digunakan untuk mengikuti
kelas daring bersama, mengerjakan tugas, atau sekadar membaca materi
pembelajaran. Dengan dukungan jaringan internet darurat, ruang tersebut menjadi
pusat pemulihan sekaligus pusat belajar.
Pendekatan
humanis dalam pembelajaran jarak jauh menegaskan bahwa pendidikan bagi korban
bencana bukan hanya tentang memenuhi target kurikulum, tetapi juga tentang
memulihkan rasa aman dan harapan anak. Ketika teknologi pendidikan digunakan
untuk mendukung aspek emosional dan sosial siswa, maka pembelajaran daring
menjadi lebih dari sekadar proses akademik—ia menjadi bagian dari pemulihan
kemanusiaan.