Model Literasi Digital Keagamaan Dikembangkan untuk Perkuat Pembelajaran PAI
Model Literasi Digital Keagamaan
Dikembangkan untuk Perkuat Pembelajaran PAI
Surabaya (17/12/2025)—
Upaya penguatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital terus
dilakukan melalui pengembangan Model Pembelajaran Literasi Digital Keagamaan.
Model ini dirancang untuk menjawab tantangan derasnya arus informasi digital,
termasuk konten keagamaan yang beragam, kompleks, dan tidak jarang bersifat
problematik bagi peserta didik.
Penelitian dan pengembangan model
tersebut dilakukan oleh Muhammad Khafim Ashari dengan pendekatan Research and
Development (R&D), yang berfokus pada perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian pembelajaran literasi digital keagamaan. Studi kasus penelitian
dilaksanakan di MAN Kota Surabaya dan SMA Takmiriyah Surabaya, melibatkan 11
guru PAI dan 54 siswa.
Model ini dirancang untuk membekali
siswa dengan kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber-sumber
digital keagamaan secara kritis dan bertanggung jawab. Dalam konteks
pembelajaran PAI, literasi digital keagamaan dipandang sebagai kompetensi
penting agar siswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu
menyeleksi dan merefleksikan konten keagamaan yang mereka temui di ruang
digital.
Pada tahap perencanaan, guru
menganalisis kemampuan awal literasi digital peserta didik, menyusun perangkat
pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi, serta merancang strategi
pembelajaran yang mendorong interaksi aktif siswa. Model ini
menekankan integrasi tujuan pembelajaran, materi, metode, dan evaluasi dalam
satu kesatuan sistem pembelajaran digital.
Tahap pelaksanaan menempatkan
siswa sebagai subjek pembelajaran aktif. Siswa didorong untuk mengakses
berbagai sumber digital keagamaan, melakukan evaluasi kredibilitas informasi,
serta mengaitkan temuan digital dengan konteks kehidupan sehari-hari. Proses
ini sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan reflektif dalam memahami
ajaran Islam di era digital.
Sementara itu, pada tahap
penilaian, model ini mengintegrasikan evaluasi berbasis digital dan
non-digital. Penilaian dilakukan melalui tugas tertulis, proyek, diskusi
interaktif, serta penggunaan platform digital yang memungkinkan umpan balik
berkelanjutan antara guru dan siswa.
Penelitian ini juga menggunakan
teknik pengumpulan data yang komprehensif, mulai dari wawancara mendalam,
observasi kelas, hingga analisis dokumen pembelajaran. Keabsahan data dijaga
melalui triangulasi sumber dan teknik, sehingga menghasilkan temuan yang kuat
dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Hasil pengembangan menunjukkan
bahwa model pembelajaran literasi digital keagamaan mampu mendorong siswa
menjadi pembelajar yang religius, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan
teknologi digital. Model ini juga membuka ruang inovasi dalam pembelajaran PAI,
sekaligus memperkuat peran guru sebagai fasilitator pembelajaran di era
transformasi digital.
Ke depan, model ini diharapkan
dapat direplikasi dan dikembangkan lebih luas di berbagai satuan pendidikan
sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran PAI yang relevan
dengan tantangan zaman.