MODEL ETORVI UNGKAP ARAH BARU INOVASI PEMBELAJARAN DIGITAL DI PERGURUAN TINGGI
MODEL ETORVI UNGKAP ARAH BARU
INOVASI PEMBELAJARAN DIGITAL
DI PERGURUAN TINGGI
SURABAYA. Perkembangan teknologi pendidikan terus menunjukkan dinamika
baru, terutama ketika inovasi pembelajaran tidak hanya berfokus pada penggunaan
media digital, tetapi juga memperhatikan aspek kognitif peserta didik. Hal ini
tergambar jelas dari hasil penelitian mengenai Model Extended Flipped Classroom
Terintegrasi Simulator dan Video Interaktif (ETORVI) yang diterapkan pada mata
kuliah Automata di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Dalam penelitian tersebut, model ETORVI terbukti memberikan dampak
signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar mahasiswa, sekaligus mengungkap
bahwa kapasitas working memory menjadi faktor penting yang memengaruhi
efektivitas pembelajaran digital. Temuan ini membuka ruang diskusi baru
mengenai bagaimana desain pembelajaran masa kini seharusnya dikembangkan.
Pembelajaran Digital Harus Adaptif terhadap Kapasitas Kognitif
Salah satu sorotan utama dalam penelitian ini adalah bahwa kemampuan
working memory berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar. Fakta ini
menegaskan bahwa pembelajaran digital tidak bisa dibuat seragam. Teknologi
pendidikan masa depan harus lebih adaptif terhadap kemampuan kognitif peserta
didik agar tidak memicu cognitive overload dan justru menghambat
pemahaman.
Inilah tantangan sekaligus peluang bagi para pengembang pembelajaran
digital untuk melahirkan desain yang lebih personal, responsif, dan berbasis
data.
Simulator dan Video Interaktif Terbukti Meningkatkan Motivasi
Integrasi simulator berbasis JFLAP dan video interaktif H5P dalam model
ETORVI menunjukkan peningkatan motivasi belajar mahasiswa secara signifikan.
Media interaktif terbukti mampu:
- memvisualisasikan
konsep yang abstrak,
- memberikan
ruang eksplorasi,
- dan
memfasilitasi pembelajaran mandiri.
Ini menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar tambahan dalam
pembelajaran, tetapi merupakan katalisator penting untuk menciptakan
pengalaman belajar yang lebih bermakna, terutama pada mata kuliah yang menuntut
logika analitis tinggi seperti automata dan hirarki Chomsky.
Extended Flipped Classroom Perkuat Pembelajaran Berkelanjutan
Model Extended Flipped Classroom (EFC) yang digunakan dalam penelitian
ini memperlihatkan pendekatan yang lebih komprehensif dibanding flipped
classroom tradisional. Dengan dukungan LMS, video interaktif, dan simulasi
digital, mahasiswa dapat mengakses materi secara berulang, berdiskusi, dan
melakukan analisis sebelum memasuki sesi tatap muka.
Model ini selaras dengan prinsip Seamless Learning, yakni pembelajaran
yang berlangsung secara berkelanjutan tanpa batas ruang dan waktu.
Urgensi Mengintegrasikan Pemetaan Working Memory ke LMS
Temuan bahwa mahasiswa dengan working memory rendah mendapatkan manfaat
besar dari model ETORVI memberikan pesan kuat bahwa LMS seharusnya mulai
menyediakan fitur pemetaan kognitif. Dengan demikian, dosen dapat mengatur
tingkat kesulitan materi, pilihan media, dan alur pembelajaran sesuai kapasitas
mahasiswa.
Jika hal ini diterapkan secara luas, maka teknologi pendidikan dapat
berperan sebagai alat pemerataan kualitas belajar.
Penutup
Model ETORVI bukan hanya inovasi teknis, tetapi juga paradigma baru
bahwa desain pembelajaran digital harus menggabungkan media interaktif dan
informasi kognitif peserta didik. Penelitian ini memberikan catatan penting
bagi perguruan tinggi: teknologi pendidikan masa depan bukan lagi tentang
seberapa banyak teknologi digunakan, tetapi seberapa tepat teknologi tersebut
diintegrasikan dengan kebutuhan belajar mahasiswa.
Dengan temuan ini, ETORVI layak menjadi model rujukan bagi pembelajaran
di era digital, terutama untuk mata kuliah kompleks yang membutuhkan pemahaman
mendalam dan analisis tingkat tinggi.