Microlearning: Solusi Cepat atau Jurang Pemahaman Mendalam bagi Mahasiswa?
Microlearning: Solusi
Cepat atau Jurang Pemahaman Mendalam bagi Mahasiswa?
Tren microlearning
— pembelajaran berbasis materi singkat dan padat — kini menjadi strategi
populer di kalangan mahasiswa. Dengan durasi belajar 5–10 menit per modul,
metode ini dianggap efisien dan sesuai dengan gaya hidup digital yang cepat.
Namun, di balik kepraktisan itu, muncul pertanyaan penting: apakah belajar
singkat cukup untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam?
Microlearning efektif
untuk memperkuat konsep dasar dan keterampilan teknis. Mahasiswa dapat belajar
di mana saja dan kapan saja, tanpa tekanan waktu. Namun, tantangan muncul
ketika pendekatan ini dijadikan satu-satunya model belajar. Proses berpikir kritis
dan analitis membutuhkan waktu, refleksi, dan konteks — sesuatu yang sulit
dicapai dalam format singkat.
Kecenderungan “belajar
cepat” dapat melahirkan generasi yang efisien namun dangkal. Mahasiswa terbiasa
dengan informasi instan, tetapi kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam
proses belajar yang kompleks. Padahal, esensi pendidikan adalah membangun pemahaman
yang bermakna, bukan sekadar menambah wawasan permukaan.
Solusinya adalah
integrasi: microlearning perlu dikombinasikan dengan diskusi mendalam, proyek
kolaboratif, dan refleksi kritis. Dosen memiliki peran penting dalam menuntun
mahasiswa untuk tidak hanya mengonsumsi materi, tetapi juga memproduksi
pengetahuan.
Belajar singkat boleh,
asalkan tidak berhenti di permukaan. Kecepatan tanpa kedalaman hanya akan
menciptakan generasi “tahu banyak tapi memahami sedikit.”