Mewujudkan Pembelajaran Fotografi Daring di Masa Bencana
Mewujudkan Pembelajaran Fotografi Daring di Masa
Bencana
Pembelajaran praktik, seperti fotografi, sering dianggap sulit dilakukan
secara daring, apalagi di wilayah terdampak bencana. Namun, dengan desain yang
tepat, pembelajaran fotografi tetap bisa dijalankan bahkan di Aceh dan Sumatra
saat krisis. Kuncinya adalah adaptasi metode, materi, dan aktivitas yang
relevan dengan kondisi lokal.
Salah satu strategi adalah menggunakan lingkungan sekitar sebagai
laboratorium belajar. Siswa bisa mendokumentasikan kondisi lingkungan, objek
sehari-hari, atau fenomena alam sekitar rumah mereka. Aktivitas ini tidak
membutuhkan alat mahal, cukup menggunakan kamera ponsel. Guru dapat memberikan
tema kreatif, misalnya “Fotografi dokumentasi bencana lokal” atau “Cahaya
dan perspektif di sekitar rumah”.
Selain itu, materi teori dan teknik fotografi dapat diberikan dalam format
microlearning. Video singkat, gambar contoh, dan teks ringkas memungkinkan
siswa memahami konsep secara bertahap tanpa membebani kuota internet. Guru bisa
memberikan umpan balik melalui foto yang dikirim siswa, voice note, atau
komentar singkat.
Metode ini juga mendukung pengembangan keterampilan abad 21, seperti
kreativitas, observasi kritis, dan literasi visual. Siswa belajar mengamati
lingkungan, mengolah ide, dan menyampaikan pesan melalui visual. Bahkan dalam
kondisi terbatas, proses ini tetap membangun kompetensi yang bermakna.
Dengan pendekatan fleksibel, pembelajaran fotografi daring dapat tetap
berjalan, relevan, dan memberi pengalaman belajar yang nyata. Hal ini
menunjukkan bahwa kreativitas pendidikan tidak terhenti meski bencana terjadi.