Menjernihkan Kabut: Bedakan Project Based Learning dan Product Based Learning
Oleh: Redaksi EduTech
Belakangan ini, dunia pendidikan kita semakin akrab dengan istilah “PBL.” Masalahnya, PBL kini bisa berarti apa saja—Problem Based Learning, Project Based Learning, atau Product Based Learning. Semua tampak mirip, apalagi karena sama-sama menghasilkan “produk.” Tak heran jika banyak guru dan dosen di lapangan merasa bingung: apa sebenarnya bedanya?
Dalam banyak ruang kelas, PjBL (Project Based Learning) dan ProBL (Product Based Learning) sering disamakan sebagai kegiatan “membuat sesuatu.” Siswa diberi tugas untuk menghasilkan produk tertentu di akhir pelajaran, lalu guru menilai hasilnya. Namun di sinilah letak kesalahpahaman yang sering luput: membuat proyek bukan berarti menerapkan Project Based Learning.
Project Based Learning sejatinya bukan tentang hasil, melainkan tentang proses belajar. Di dalamnya, peserta didik diajak menyelidiki pertanyaan kompleks, melakukan riset, berkolaborasi, dan menemukan makna melalui pengalaman nyata. Produk hanyalah bukti dari pembelajaran itu—bukan tujuan utama. Misalnya, ketika siswa membuat media pembelajaran digital, fokus utamanya bukan pada hasil medianya, tetapi pada proses berpikir, penelitian, dan refleksi yang mereka lakukan untuk menghasilkan media tersebut.
Sebaliknya, Product Based Learning memiliki orientasi yang lebih jelas pada produk itu sendiri. Di sini, siswa belajar untuk menghasilkan barang atau jasa yang memiliki nilai nyata dan standar industri. Tujuan pembelajarannya adalah menguasai prosedur dan keterampilan teknis agar produk yang dihasilkan berkualitas dan berdaya saing. Model ini sangat cocok diterapkan di pendidikan vokasi, kejuruan, atau program kewirausahaan.
Dengan kata lain, PjBL berfokus pada belajar untuk memahami, sementara ProBL berfokus pada belajar untuk menghasilkan. PjBL membentuk peserta didik menjadi pemecah masalah (problem solver), sedangkan ProBL menumbuhkan jiwa produsen dan wirausaha (producer/entrepreneur).
Sayangnya, praktik di lapangan sering kali melompat langsung ke tahap produksi tanpa melalui proses berpikir mendalam. Produk memang jadi, tetapi miskin makna belajar. Padahal, tanpa fondasi pemahaman konseptual seperti yang ditekankan PjBL, kegiatan produksi berisiko menjadi rutinitas teknis tanpa nilai edukatif.
Idealnya, kedua pendekatan ini tidak perlu dipertentangkan. PjBL dan ProBL bisa saling melengkapi. Dalam pendidikan teknologi, misalnya, PjBL dapat menumbuhkan kemampuan riset dan desain konseptual, sedangkan ProBL melatih ketepatan teknis dan orientasi mutu produk. Kolaborasi keduanya akan menghasilkan lulusan yang bukan hanya bisa membuat sesuatu, tetapi juga tahu mengapa dan untuk siapa sesuatu itu dibuat.
Kini, tantangan bagi dunia pendidikan adalah mengembalikan makna kedua model ini ke tempat yang semestinya. Guru dan dosen perlu memahami filosofi di balik metode, bukan sekadar mengikuti tren. Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar melahirkan pembuat produk, tetapi membentuk pembelajar yang bernalar, kreatif, dan bernilai guna bagi Masyarakat [mustaji]