Mengintegrasikan AI untuk Mendukung Pembelajaran Daring di Daerah Bencana
Mengintegrasikan AI untuk Mendukung Pembelajaran
Daring di Daerah Bencana
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memiliki potensi besar untuk
mendukung pembelajaran daring, terutama di wilayah yang terdampak bencana alam
seperti Aceh dan Sumatra. AI dapat memfasilitasi proses belajar yang fleksibel,
adaptif, dan efisien, meski siswa menghadapi keterbatasan jaringan, perangkat,
atau waktu.
Salah satu penerapan AI adalah penyediaan materi adaptif. AI dapat
menganalisis kemampuan siswa dari tugas sebelumnya dan memberikan materi atau
latihan yang sesuai dengan tingkat kompetensi mereka. Dalam situasi bencana,
pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri tanpa harus
selalu menunggu guru online, sehingga proses belajar tetap berlanjut meskipun
guru sibuk menangani kondisi darurat.
AI juga dapat membantu guru dalam memberikan umpan balik secara otomatis.
Misalnya, kuis daring atau latihan interaktif bisa langsung memberi saran
perbaikan. Hal ini sangat membantu saat guru tidak dapat memantau seluruh siswa
secara simultan, terutama ketika jaringan terbatas atau siswa tersebar di
lokasi berbeda.
Selain itu, AI dapat memfasilitasi pengelolaan komunikasi. Chatbot
sederhana dapat menjawab pertanyaan siswa tentang materi, tenggat waktu, atau
instruksi tugas. Dalam konteks bencana, chatbot ini berfungsi sebagai
pendamping belajar yang siap kapan saja, sehingga siswa tidak kehilangan arah.
Integrasi AI juga mendorong penggunaan modul offline dan microlearning. AI
dapat menyarankan urutan belajar yang optimal, menyesuaikan durasi materi, dan
memprioritaskan topik penting. Hal ini penting karena siswa yang terdampak
bencana mungkin hanya memiliki beberapa menit atau jam setiap hari untuk
mengakses materi.
Meski AI menawarkan banyak keuntungan, penerapannya harus tetap manusiawi.
Guru tetap berperan sebagai fasilitator psikososial, memberikan motivasi, dan
menyesuaikan tugas dengan kondisi emosional siswa. AI tidak menggantikan guru,
tetapi memperluas kemampuan mereka dalam mengelola pembelajaran di tengah
situasi krisis.
Dengan strategi ini, AI bukan sekadar teknologi canggih, tetapi alat yang
mendukung keberlanjutan pendidikan, meningkatkan kemandirian siswa, dan
mempermudah guru dalam menghadapi tantangan pembelajaran di daerah terdampak
bencana.