Menghidupkan Teori Behaviorisme untuk Membangun Disiplin Belajar Mandiri
Surabaya, 29 Oktober 2025 – Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menggelar perkuliahan tematik dalam mata kuliah Behaviorisme dalam Pembelajaran Modern dengan topik “Menghidupkan Teori Behaviorisme untuk Membangun Disiplin Belajar Mandiri.” Kegiatan akademik ini dibimbing oleh dua dosen pengampu yang juga pakar dalam bidang desain sistem pembelajaran, yaitu Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd.
Topik ini mengangkat relevansi teori Behaviorisme dalam membentuk kedisiplinan belajar mahasiswa, terutama di era digital ketika pembelajaran mandiri menjadi semakin penting. Melalui pendekatan diskusi dan refleksi, mahasiswa S3 diajak untuk memahami bagaimana prinsip stimulus–respon dan penguatan (reinforcement) dapat diadaptasi agar tetap efektif dalam konteks pembelajaran modern.
Behaviorisme sebagai Landasan Disiplin Belajar
Dalam pengantar kuliah, Prof. Dr. Mustaji menjelaskan bahwa Behaviorisme memiliki kekuatan besar dalam membentuk perilaku belajar yang terarah. Ia menegaskan bahwa disiplin belajar bukanlah hasil spontanitas, tetapi buah dari pengondisian perilaku yang berulang dan konsisten.
“Belajar mandiri tidak akan tumbuh tanpa adanya disiplin. Dan disiplin itu, dalam pandangan behavioristik, dibentuk melalui penguatan positif terhadap perilaku yang diharapkan,” tutur Prof. Mustaji.
Ia mencontohkan bahwa dalam perkuliahan daring maupun tatap muka, dosen dapat menciptakan sistem penghargaan terhadap ketepatan waktu, keaktifan, dan konsistensi tugas mahasiswa. Melalui reinforcement yang tepat, kebiasaan belajar positif dapat terbangun secara sistematis hingga menjadi perilaku otomatis.
Adaptasi Behaviorisme di Era Pembelajaran Digital
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd. menyoroti pentingnya adaptasi teori Behaviorisme dalam konteks pembelajaran digital yang serba mandiri. Ia menjelaskan bahwa tantangan utama pendidikan modern adalah menjaga kedisiplinan mahasiswa tanpa pengawasan langsung.
“Lingkungan digital memberi kebebasan, tetapi kebebasan tanpa kontrol diri bisa menurunkan disiplin. Karena itu, prinsip behavioristik perlu dihidupkan kembali dalam bentuk sistem yang mampu menumbuhkan tanggung jawab belajar,” ungkapnya.
Menurut Dr. Syaiputra, teknologi pembelajaran seperti Learning Management System (LMS) dapat menjadi alat yang efektif untuk menerapkan prinsip reinforcement. Misalnya, pemberian umpan balik otomatis, sistem poin keaktifan, atau penghargaan digital dapat mendorong mahasiswa untuk mempertahankan rutinitas belajar yang disiplin.
Sinergi antara Kontrol Eksternal dan Kesadaran Internal
Diskusi kelas berlangsung interaktif. Mahasiswa menyoroti bahwa pembelajaran modern tidak cukup hanya dengan reward dan punishment, tetapi juga perlu mendorong munculnya kesadaran diri (self-regulated learning).
Prof. Mustaji menegaskan bahwa meskipun Behaviorisme menekankan pada kontrol eksternal, dalam pembelajaran tingkat lanjut prinsip ini dapat menjadi jalan menuju kontrol internal. “Ketika penguatan dilakukan secara konsisten, mahasiswa akan belajar mengenali nilai dari perilaku disiplin itu sendiri. Dari luar menuju dalam,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Syaiputra menambahkan bahwa tujuan akhir penerapan Behaviorisme bukanlah sekadar menciptakan kepatuhan, tetapi menumbuhkan kebiasaan belajar yang berkelanjutan. “Disiplin bukan paksaan, melainkan hasil dari proses belajar yang dikondisikan dengan baik,” ujarnya menutup sesi diskusi.
Melalui kuliah ini, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA diajak untuk menafsirkan ulang teori Behaviorisme tidak sebagai paradigma lama, melainkan sebagai fondasi praktis dalam membangun budaya belajar mandiri yang produktif. Dengan pendekatan yang kontekstual dan inovatif, Behaviorisme kembali dihidupkan — bukan hanya sebagai teori psikologi belajar, tetapi sebagai strategi membentuk karakter pembelajar di era modern.
🖋️ Reporter: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📍 Editor: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📅 Tanggal Publikasi: 29 Oktober 2025