Mengasah Daya Pikir Kritis Lewat Pendekatan Kognitif dalam Pembelajaran Daring
Surabaya, 29 Oktober 2025 — Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali melanjutkan perkuliahan tematik dengan topik “Mengasah Daya Pikir Kritis Lewat Pendekatan Kognitif dalam Pembelajaran Daring.” Kegiatan akademik ini merupakan bagian dari mata kuliah Kognitivisme dan Pembelajaran Berbasis Proses Mental yang diampu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd.
Topik ini berfokus pada bagaimana teori kognitivisme dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam lingkungan pembelajaran daring. Di tengah pesatnya digitalisasi pendidikan, pendekatan kognitif dianggap mampu menjembatani kesenjangan antara penguasaan informasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang menjadi tuntutan utama pendidikan abad ke-21.
Kognitivisme sebagai Dasar Pengembangan Berpikir Kritis
Dalam pembukaan kuliah, Prof. Dr. Mustaji menekankan bahwa teori Kognitivisme tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia belajar, tetapi juga bagaimana mereka berpikir dan memaknai pengalaman belajar. Menurutnya, pembelajaran daring yang efektif bukan sekadar menyediakan akses informasi, melainkan menumbuhkan kemampuan mahasiswa untuk mengolah dan menilai informasi secara kritis.
“Kemampuan berpikir kritis tidak muncul secara otomatis. Ia perlu dilatih melalui strategi kognitif yang menstimulasi analisis, refleksi, dan pemecahan masalah,” ungkap Prof. Mustaji.
Beliau juga menyoroti bahwa dalam konteks pembelajaran daring, peran dosen bergeser dari penyampai materi menjadi fasilitator berpikir. Dosen perlu merancang aktivitas yang memicu active processing, seperti diskusi berbasis kasus, simulasi digital, dan refleksi terarah agar mahasiswa benar-benar mengolah pengetahuan secara mendalam.
Pendekatan Kognitif dalam Ruang Belajar Virtual
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd. menjelaskan bahwa platform digital seperti Learning Management System (LMS) dapat dimanfaatkan untuk menerapkan prinsip-prinsip kognitif dalam pembelajaran. Ia mencontohkan bagaimana fitur kuis interaktif, forum diskusi, dan feedback otomatis bisa berfungsi sebagai stimulus yang menantang proses berpikir mahasiswa.
“Kognitivisme membantu kita memahami bahwa belajar daring harus melibatkan pikiran aktif, bukan pasif. Ketika mahasiswa diberi ruang untuk berpikir, mengelola, dan memecahkan masalah, maka proses belajar menjadi lebih bermakna,” jelas Dr. Syaiputra.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya memperkuat daya analisis mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu ilmiah dan kemampuan mengaitkan teori dengan praktik.
Mahasiswa Sebagai Pembelajar Reflektif
Selama perkuliahan berlangsung, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA terlibat aktif dalam simulasi pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan prinsip-prinsip kognitivisme. Mereka dilatih untuk mengamati pola berpikir sendiri (metakognisi), mengidentifikasi bias dalam proses analisis, dan mengembangkan argumen akademik berbasis bukti.
Prof. Mustaji menutup sesi dengan menegaskan bahwa berpikir kritis adalah keterampilan yang harus terus diasah, terutama di era digital yang sarat dengan banjir informasi. “Mahasiswa doktoral harus menjadi peneliti dan pembelajar reflektif yang mampu memilah informasi, bukan sekadar mengumpulkannya,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa S3 UNESA diharapkan mampu mengintegrasikan prinsip kognitivisme dalam praktik pembelajaran daring yang menumbuhkan daya analisis, refleksi, dan pemecahan masalah. Pembelajaran berbasis proses mental tidak hanya memperkuat kapasitas akademik, tetapi juga menyiapkan lulusan yang tangguh menghadapi tantangan intelektual di era digital.
🖋️ Reporter: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📍 Editor: TIM Jurnalistik S3 Teknologi Pendidikan
📅 Tanggal Publikasi: 29 Oktober 2025