Mahasiswa S3 UNESA Lakukan Diskusi Kritis tentang Evolusi Paradigma Teknologi Pendidikan
Mahasiswa S3 UNESA Lakukan Diskusi Kritis tentang Evolusi
Paradigma Teknologi Pendidikan
Surabaya, 14 November 2025 —
Perkembangan Teknologi Pendidikan (TP) tidak dapat dilepaskan dari perubahan
paradigma yang terjadi dari masa ke masa. Untuk memahami perjalanan disiplin
ini secara komprehensif, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA mengadakan
diskusi kritis bertema “Evolusi Paradigma Teknologi Pendidikan.”
Kegiatan ini dipandu oleh dua dosen pengampu, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd.
dan Dr. Citra Fitri Kholidya, S.Pd., M.Pd., yang mendorong mahasiswa
menganalisis perkembangan paradigma TP dari era media hingga ekosistem
pembelajaran digital modern.
Evolusi Paradigma: Dari Media ke Sistem
Prof. Mustaji membuka diskusi dengan penekanan bahwa
perubahan paradigma dalam Teknologi Pendidikan merupakan respon terhadap
perkembangan kebutuhan belajar, teori psikologi, dan inovasi teknologi.
“Teknologi Pendidikan tidak pernah statis. Ia bergerak
mengikuti zaman, dari fokus media visual, menuju pendekatan sistem, hingga era
ekosistem digital yang kompleks,” jelasnya.
Mahasiswa
diajak memahami perjalanan paradigma:
- Paradigma
1 (Era Media): berfokus pada komunikasi pesan, media audio-visual,
dan efektivitas penyampaian informasi.
- Paradigma Sistem: menekankan desain
pembelajaran berbasis analisis kebutuhan dan komponen yang saling terkait.
- Paradigma Ekologi
Pembelajaran:
memahami belajar sebagai proses dinamis dalam lingkungan digital yang
terhubung.
Diskusi
ini memberi gambaran bahwa perubahan paradigma bukan sekadar pergantian teori,
tetapi evolusi pemikiran yang memengaruhi seluruh ekosistem pendidikan.
Analisis
Kritis: Apa yang Mendorong Evolusi Paradigma?
Dr. Citra
Fitri Kholidya memantik pemikiran lebih dalam dengan mempertanyakan faktor apa
saja yang memicu perubahan paradigma TP di tingkat global.
“Paradigma berubah karena realitas pendidikan berubah.
Teknologi berkembang, kebutuhan belajar meningkat, dan teori belajar semakin
kompleks,” ujarnya.
Beliau menyoroti beberapa pemicu utama:
- revolusi dalam teknologi
digital,
- kemajuan riset psikologi
belajar,
- tuntutan pembelajaran abad 21,
- perubahan
peran pendidik dan peserta didik,
- serta globalisasi akses
pendidikan.
Dengan
pemahaman ini, mahasiswa dapat melihat bahwa evolusi paradigma bukanlah tren
sesaat, tetapi perjalanan ilmiah yang memiliki akar filosofis dan historis yang
kuat.
Diskusi
Mahasiswa: Mengaitkan Evolusi dengan Konteks Masa Kini
Dalam sesi
kelompok, mahasiswa diminta mengkritisi bagaimana perubahan paradigma
memengaruhi praktik pembelajaran di lingkungan profesional masing-masing.
Refleksi mahasiswa menampilkan pemahaman yang beragam:
- Paradigma 1 tetap digunakan
dalam penyusunan konten digital.
- Paradigma sistem hadir dalam
perancangan kurikulum dan program pelatihan.
- Paradigma ekologi pembelajaran
muncul pada konteks LMS, AI, pembelajaran hybrid, dan big data.
Seorang
mahasiswa menyampaikan refleksi menarik:
“Semua
paradigma saling terkait. Evolusi justru membantu kita melihat bahwa Teknologi
Pendidikan bukan sekadar alat, tetapi proses berpikir yang terus berkembang.”
Diskusi
berlangsung hidup, menunjukkan bahwa mahasiswa mampu memposisikan diri sebagai
calon peneliti yang memahami hubungan antara sejarah, teori, dan inovasi
pendidikan.
Penutup:
Evolusi yang Membentuk Identitas Ilmu
Perkuliahan
ditutup dengan pesan kuat dari Prof. Mustaji:
“Jika
Anda memahami evolusi paradigma, Anda akan mampu menciptakan inovasi yang bukan
hanya modern, tetapi memiliki dasar keilmuan yang kuat.”
Diskusi
ini memperkuat pemahaman mahasiswa tentang pentingnya melihat Teknologi
Pendidikan dalam perspektif historis dan teoretis. Melalui analisis evolusi
paradigma, mahasiswa S3 UNESA diharapkan menjadi Teknolog Pendidikan yang
kritis, inovatif, dan mampu menjawab tantangan transformasi pendidikan masa
depan.
Analisis
Peran Paradigma 1 dalam Pengembangan Media Pembelajaran Digital
Surabaya,
14 November 2025 —
Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, mahasiswa S3 Teknologi
Pendidikan UNESA kembali diajak menelusuri fondasi penting dalam desain media
pembelajaran modern, yakni Paradigma 1 Teknologi Pendidikan. Pada
perkuliahan bertema “Analisis Peran Paradigma 1 dalam Pengembangan Media
Pembelajaran Digital,” mahasiswa mempelajari bagaimana prinsip-prinsip awal
TP tetap menjadi rujukan utama dalam menciptakan media digital yang efektif,
terstruktur, dan komunikatif.
Sesi ini
dipandu oleh dua dosen pengampu, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. dan Dr.
Citra Fitri Kholidya, S.Pd., M.Pd., yang menekankan pentingnya
mempertahankan akar keilmuan di tengah arus modernisasi teknologi pendidikan
yang berkembang cepat.
Paradigma 1 sebagai Akar Pengembangan Media Digital
Dalam pengantar perkuliahan, Prof. Mustaji menegaskan
bahwa pengembangan media digital tidak dapat dilepaskan dari Paradigma 1, yang
pada dasarnya bertumpu pada tiga pilar utama: pesan, media, dan proses
komunikasi.
“Paradigma 1 mengajarkan bahwa media itu bukan hanya
alat, tetapi wadah bagi pesan. Jika pesan tidak dirancang dengan baik, media
apa pun tidak akan efektif,” jelas Prof. Mustaji.
Beliau menjelaskan bahwa meskipun media digital kini
didukung teknologi canggih seperti animasi 3D, augmented reality, dan interaksi
berbasis AI, prinsip dasar desain media tetap merujuk pada paradigma awal,
seperti:
- struktur pesan yang logis,
- kesederhanaan tampilan visual,
- kejelasan instruksi,
- dan relevansi tujuan
pembelajaran.
Peran
Paradigma 1 dalam Desain Instruksional Digital
Dr. Citra
Fitri Kholidya kemudian memperkuat pembahasan dengan menjelaskan bahwa berbagai
model desain instruksional modern yang digunakan dalam pengembangan media
digital tetap berakar pada Paradigma 1.
“Model
seperti ASSURE, Dick & Carey, maupun model desain multimedia modern tetap
mengikuti pola yang ditanamkan oleh Paradigma 1—bahwa pesan harus dianalisis,
dirancang, disampaikan, dan dievaluasi,” ungkapnya.
Beliau
menekankan bahwa pemahaman akurat tentang Paradigma 1 memungkinkan mahasiswa
merancang media digital yang:
- menarik secara visual,
- akurat secara instruksional,
- sesuai
dengan karakteristik peserta didik,
- serta
mampu mendukung kompetensi abad 21.
Mahasiswa kemudian diminta menganalisis beberapa contoh
media, seperti video pembelajaran, modul interaktif, dan aplikasi edukasi,
untuk melihat unsur Paradigma 1 yang muncul pada desain tersebut.
Diskusi Mahasiswa: Media Modern Tetap Berakar pada
Prinsip Lama
Diskusi kelas menjadi bagian paling menarik ketika
mahasiswa menyimpulkan bahwa desain media modern sebenarnya merupakan evolusi
langsung dari prinsip-prinsip Paradigma 1.
Seorang
mahasiswa mengungkapkan refleksi kritis:
“Semua media modern—YouTube learning, aplikasi mobile,
infografik digital—masih mengikuti pola Paradigma 1. Artinya, teknologi
berubah, tetapi prinsip desain pesan tetap sama.”
Mahasiswa lain menambahkan bahwa kegagalan banyak media
digital saat ini bukan disebabkan teknologi yang kurang canggih, tetapi karena
kurang mengikuti prinsip komunikasi dan desain pesan yang menjadi inti
Paradigma 1.
Sesi ini membuka wawasan mahasiswa bahwa media digital
berbasis AI sekalipun tetap memerlukan kejelasan tujuan, struktur
instruksional, dan perencanaan visual yang baik.
Penutup: Paradigma 1 sebagai Penuntun Masa Depan Media
Digital
Menutup perkuliahan, Prof. Mustaji memberikan penegasan
bahwa Paradigma 1 adalah kunci untuk memahami bagaimana media digital dapat
dikembangkan secara efektif.
“Teknologi boleh berubah cepat, tetapi fondasi keilmuan
harus tetap kuat. Paradigma 1 adalah kompas yang memastikan media digital yang
Anda kembangkan tetap efektif dan bermakna,” pesannya.
Perkuliahan ini menegaskan bahwa Paradigma 1 tidak hanya
menjadi sejarah dalam Teknologi Pendidikan, melainkan juga pilar yang
memastikan bahwa media digital dikembangkan berdasarkan prinsip ilmiah yang
kokoh. Dengan pemahaman tersebut, mahasiswa S3 UNESA semakin siap menjadi
pengembang media yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berlandaskan keilmuan
yang kuat.