Krisis Kepercayaan di Era LMS dan AI: Mahasiswa Merasa Disurveilans, Bukan Didukung
Krisis Kepercayaan di Era LMS dan AI: Mahasiswa Merasa
Disurveilans, Bukan Didukung
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pendidikan, kampus
kini mengandalkan sistem Learning Management System (LMS) dan kecerdasan
buatan (AI) untuk mengelola pembelajaran. Sistem ini hadir dengan janji
efisiensi—memudahkan dosen dalam memantau aktivitas belajar, menilai kinerja
mahasiswa, dan mengelola data akademik. Namun, di balik kemajuan itu, muncul
gejala baru yang mengkhawatirkan: mahasiswa merasa diawasi, bukan didampingi.
Banyak platform pembelajaran modern kini dilengkapi fitur learning
analytics yang merekam jejak digital mahasiswa: berapa lama mereka membuka
materi, kapan mereka mengirim tugas, bahkan seberapa sering mereka menonton
video pembelajaran. Tujuannya tentu baik, yakni untuk memahami perilaku belajar
dan meningkatkan efektivitas pendidikan. Namun, ketika transparansi tidak
diimbangi dengan komunikasi yang sehat, teknologi ini justru menimbulkan rasa
tidak nyaman dan menurunkan kepercayaan antara mahasiswa dan institusi.
Fenomena ini dapat disebut sebagai academic surveillance—pengawasan
akademik berbasis data. Di beberapa negara, mahasiswa mulai menolak praktik ini
karena dianggap melanggar privasi dan mengurangi kebebasan belajar. Mereka
merasa menjadi “data” yang terus diawasi, bukan individu yang sedang tumbuh
dalam proses intelektual. Akibatnya, hubungan emosional antara mahasiswa,
dosen, dan kampus bisa renggang.
Dalam konteks etika pendidikan, masalah ini sangat penting.
Tujuan pendidikan adalah membangun kepercayaan, bukan kontrol. Teknologi
seharusnya hadir untuk memperkuat empati dan pendampingan, bukan menggantikan
kehangatan relasi manusia. Jika AI dan LMS hanya digunakan untuk mengawasi dan
mengukur produktivitas, maka makna belajar akan direduksi menjadi sekadar
aktivitas mekanis.
Kampus perlu menata ulang paradigma digitalnya: dari
pengawasan menjadi pemberdayaan. Data belajar dapat dimanfaatkan untuk
mendeteksi kesulitan mahasiswa secara lebih awal, memberi umpan balik yang
personal, atau membantu mereka menemukan gaya belajar terbaik. Namun, semua itu
harus dilakukan dengan prinsip etika, transparansi, dan persetujuan pengguna.
Mahasiswa perlu tahu data apa yang dikumpulkan dan untuk tujuan apa.
Krisis kepercayaan ini menjadi cermin bahwa transformasi
digital tidak cukup berhenti pada infrastruktur. Ia harus disertai transformasi
budaya—yakni membangun ekosistem yang adil, transparan, dan manusiawi. Di era
AI, kampus masa depan bukanlah yang paling canggih teknologinya, tetapi yang
paling dipercaya oleh penggunanya. Kepercayaan adalah fondasi utama dalam
pendidikan; tanpa itu, semua algoritma hanyalah program tanpa jiwa.