Keterhubungan Konteks Belajar: Meneropong Filosofi di Balik Konsep Seamless Learning
Keterhubungan Konteks Belajar: Meneropong Filosofi
di Balik Konsep Seamless Learning
Oleh: Ilham Laksana
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
Belajar adalah proses yang tak pernah berhenti. Namun,
sistem pendidikan tradisional sering kali membuatnya terasa terputus. Di
sinilah konsep Seamless Learning hadir untuk menjembatani kesenjangan
antara belajar formal dan informal, antara dunia akademik dan kehidupan nyata.
Filosofi Seamless Learning berakar pada gagasan bahwa
pengalaman belajar harus mengalir secara kontinu. Mahasiswa tidak hanya
belajar ketika berada di kelas, tetapi juga saat berinteraksi di dunia digital,
sosial, maupun profesional.
Dalam salah satu kuliah yang diampu oleh Prof. Dr.
Mustaji, M.Pd dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd,
ditegaskan bahwa Seamless Learning menuntut perubahan paradigma dari teacher-centered
menjadi learner-centered system.
“Belajar bukan tentang tempat, tapi tentang keterhubungan
makna,” ujar Dr. Syaiputra.
Saya memandang filosofi ini sangat relevan dengan
perkembangan pendidikan masa kini. Di tengah arus informasi yang cepat,
mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menghubungkan berbagai sumber
pengetahuan secara mandiri. Seamless Learning mengajarkan kita berpikir
lintas konteks — mengaitkan teori dengan praktik, akademik dengan sosial, dan
lokal dengan global.
Filosofi ini juga menanamkan nilai bahwa pembelajaran sejati
bukanlah aktivitas sesaat, melainkan proses yang berlangsung sepanjang hidup.
Dengan mengadopsi prinsip seamless, mahasiswa belajar untuk terus
terhubung dengan dunia pengetahuan tanpa batas.