Integrasi Mixed Learning dan POGIL sebagai Masa Depan Pembelajaran Berpikir Tingkat Tinggi
Integrasi Mixed Learning dan POGIL sebagai Masa Depan
Pembelajaran Berpikir Tingkat Tinggi
Oleh: Redkaasi EduTech
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa integrasi Model
Mixed Learning dengan Pendekatan Process Oriented Guided Inquiry Learning
(POGIL) bukan hanya sekadar inovasi metodologis, tetapi menjadi arah baru
transformasi teknologi pendidikan. Penelitian tersebut menegaskan bahwa ketika
teknologi tidak hanya digunakan untuk menyampaikan materi, tetapi
diintegrasikan dalam sebuah desain pedagogis berbasis inkuiri terstruktur, maka
dampaknya pada kualitas belajar menjadi sangat signifikan—khususnya dalam
pemahaman konsep, keterampilan prosedural, dan kemampuan pemecahan masalah.
Mixed Learning, yang menggabungkan pembelajaran tatap
muka dan daring, menghadirkan fleksibilitas ruang dan waktu belajar. Namun,
fleksibilitas saja tidak cukup. Penelitian ini membuktikan bahwa efektivitas
teknologi akan jauh lebih kuat jika dibangun di atas kerangka pedagogis yang
jelas seperti POGIL. Pendekatan POGIL menempatkan peserta didik sebagai agen
aktif dalam penyelidikan, mengelola informasi, dan membangun pengetahuan secara
mandiri maupun kolaboratif. Di sinilah teknologi berperan sebagai enabler,
bukan sekadar media.
Temuan penelitian yang yang dilakukan oleh Rukmini
mahasiswa S3 teknologi Pendidikan fip Unesa menyoroti peningkatan pemahaman
konsep, kemampuan menerapkan prosedur, dan kemampuan memecahkan masalah
menunjukkan bahwa teknologi pendidikan harus bergerak dari model content
delivery menuju thinking development. Dengan perpaduan Mixed
Learning dan POGIL, pembelajaran tidak hanya memindahkan materi ke ruang
digital, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang interaktif,
reflektif, dan berbasis proses. Inilah yang sesungguhnya dibutuhkan untuk
menyiapkan peserta didik menghadapi kompleksitas dunia nyata.
Dalam konteks pendidikan profesional seperti
keperawatan—yang menjadi fokus penelitian—pendekatan ini sangat relevan.
Keterampilan klinis, diagnostik, dan pemecahan masalah menuntut proses kognitif
tingkat tinggi. Teknologi pendidikan, ketika berpadu dengan pedagogi yang
tepat, mampu menciptakan simulasi, skenario kasus, dan diskusi berbimbing yang
menuntun siswa untuk berpikir kritis secara sistematis.
Melihat keberhasilan implementasi Mixed Learning
dengan POGIL, sudah saatnya lembaga pendidikan mengadopsi pendekatan serupa.
Transformasi digital tanpa transformasi pedagogis hanya akan menghasilkan
pembelajaran yang dangkal. Sebaliknya, integrasi teknologi dan pedagogi
berbasis inkuiri akan melahirkan generasi pembelajar mandiri, adaptif, dan
mampu memecahkan masalah—kompetensi inti abad 21.
Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan pesan
kuat: masa depan pendidikan bukan hanya digital, tetapi digital yang
bermakna—digital yang membangun proses berpikir, bukan sekadar menyediakan
informasi.[mustaji]