Integrasi Critical Thinking dan Digital Media Literacy melalui Pembelajaran Web-Based Multimedia Learning
Integrasi Critical Thinking dan Digital Media Literacy
melalui Pembelajaran Web-Based Multimedia Learning
Mutty Hariyati
Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan,
Universitas Negeri Surabaya
Era digital menuntut individu untuk menguasai dua kompetensi fundamental: digital media literacy (literasi media digital) dan critical thinking (berpikir kritis). Keduanya secara inheren saling terkait; literasi tanpa pemikiran kritis hanya menghasilkan keterampilan teknis, sementara pemikiran kritis tanpa literasi media akan kehilangan konteks dalam lanskap informasi kontemporer. Meskipun demikian, dalam praktik pendidikan, pengembangan kedua kompetensi ini seringkali berjalan secara terpisah. Artikel ini mengemukakan bahwa pendekatan Web-Based Multimedia Learning (WBML) dapat berfungsi sebagai kerangka kerja pedagogis yang efektif untuk mengintegrasikan keduanya secara sinergis.
Keterkaitan Literasi Media digital dan Berpikir Kritis
Pada dasarnya, literasi media digital mencakup kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan informasi menggunakan platform digital. Ini adalah kompetensi instrumental. Di sisi lain, berpikir kritis adalah proses kognitif tingkat tinggi yang melibatkan analisis, sintesis, evaluasi argumen, dan refleksi untuk membentuk penilaian yang beralasan. Kesenjangan muncul ketika siswa mahir menggunakan alat digital untuk menemukan informasi (literasi) tetapi tidak memiliki kerangka kerja untuk mempertanyakan validitas, bias, atau implikasi dari informasi tersebut (berpikir kritis). Sebaliknya, kemampuan analisis yang tajam menjadi tidak relevan jika tidak dapat diterapkan pada format media baru yang mendominasi wacana publik. Integrasi keduanya menjadi sebuah urgensi untuk membentuk warga negara digital yang bertanggung jawab dan berdaya nalar.
Dua Lintasan Pembelajaran Digital: Aksesibilitas vs. Interaktivitas
Pada mulanya, pembelajaran berbasis web dan multimedia berkembang dalam dua lintasan yang cenderung terpisah. Web-Based Learning dapat diibaratkan sebagai kunci akses menuju perpustakaan digital global yang masif, menawarkan fleksibilitas dan aksesibilitas tanpa batas. Di sisi lain, Multimedia Learning lebih menyerupai laboratorium sains interaktif, di mana setiap konsep divisualisasikan untuk memaksimalkan pemahaman. Keduanya memiliki peran krusial. Namun, sebuah pemetaan riset global mengungkap temuan signifikan: pembelajaran berbasis web terbukti sangat efektif dalam meningkatkan literasi media digital (kemampuan mencari dan memvalidasi informasi). Sebaliknya, korelasi langsung antara penggunaan multimedia dengan penguatan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) ternyata belum sekuat yang diharapkan. Singkatnya, kita berhasil membentuk generasi yang cakap secara teknologis, namun belum tentu kritis terhadap arus informasi yang mereka konsumsi. Terdapat kesenjangan antara kemampuan mengakses informasi dengan kemampuan untuk menimbang, menganalisis, dan mengkritisinya secara mendalam.
Mekanisme Pembelajaran Konstruktivis dalam WBML
Fondasi dari WBML adalah teori belajar konstruktivisme, yang memosisikan siswa sebagai pembangun aktif pengetahuan. Proses integrasi berpikir kritis dan literasi media digital dalam kerangka WBML dapat diuraikan melalui tahapan berikut:
- Fase Orientasi Masalah: Siswa dihadapkan pada sebuah masalah otentik yang disajikan melalui multimedia (misalnya, video dokumenter yang provokatif, infografis data yang ambigu, atau simulasi sebuah dilema sosial).
- Fase Eksplorasi dan Elicitasi Konsepsi Awal: Siswa didorong untuk mengartikulasikan pemahaman awal mereka. Pada tahap ini, literasi media dasar digunakan untuk memahami konten, sementara benih berpikir kritis mulai ditanam melalui pertanyaan pemantik.
- Fase Konstruksi Gagasan: Siswa menggunakan platform web untuk mencari, membandingkan, dan mengevaluasi berbagai sumber informasi terkait masalah tersebut. Di sinilah literasi media digital (menavigasi dan memvalidasi sumber) dan berpikir kritis (menganalisis argumen, mendeteksi bias, mensintesis informasi) bekerja secara bersamaan dan tak terpisahkan.
- Fase Aplikasi dan Validasi: Siswa berkolaborasi dalam platform daring untuk membangun argumen, menciptakan produk media (misalnya, video respons atau esai visual), atau mempresentasikan solusi. Proses ini menuntut mereka untuk menerapkan pemahaman yang telah terkonstruksi.
- Fase Refleksi dan Metakognisi: Siswa merefleksikan proses belajar mereka, mengevaluasi bagaimana perspektif mereka berubah, dan mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan dalam penalaran mereka.
Perspektif dan Implikasi ke Depan
Integrasi Critical Thinking dan Digital Media Literacy melalui Web-Based Multimedia Learning bukan sekadar inovasi teknologi dalam pendidikan, melainkan transformasi epistemologis menuju pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan relevan dengan tuntutan era digital. Pendekatan ini berpotensi melahirkan generasi pembelajar yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga kritis, etis, dan adaptif terhadap dinamika pengetahuan global. Selanjutnya, lingkungan belajar ini secara inheren menstimulasi Berpikir Kritis. Fitur-fitur seperti simulasi interaktif, studi kasus berbasis video, dan collaborative project-based learning menuntut pembelajar untuk tidak sekadar mengingat fakta, melainkan menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dalam konteks yang kompleks. Proses pembelajaran menjadi sebuah siklus reflektif, di mana pembelajar secara terus-menerus menguji asumsi mereka berdasarkan bukti dan argumen logis. Aspek kolaboratif juga menjadi pilar utama. Forum diskusi asinkron dan proyek kelompok virtual memungkinkan interaksi lintas batas, mempertemukan beragam perspektif yang memperkaya proses analisis kritis.
Daftar Pustaka
· Buckingham, D. (2022). The Media Education Manifesto. Polity Press.
· Hobbs, R. (2021). Media Literacy in Action: Questioning the Media. Rowman & Littlefield.
· Mayer, R. E. (2020). Multimedia Learning (3rd ed.). Cambridge University Press.
· Mihailidis, P. (2022). Civic Media Literacies: Re-Imagining Engagement for Just and Sustainable Communities. Routledge.
· Moore, M. G., & Kearsley, G. (2012). Distance Education: A Systems View of Online Learning. Cengage Learning.