Flipped Learning: Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Mahasiswa di Era Pembelajaran Digital
Flipped Learning: Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Mahasiswa di Era Pembelajaran Digital
Oleh: Mustaji
Pendekatan
flipped learning kini tengah menjadi sorotan baru dalam dunia pendidikan
tinggi. Melalui studi berjudul “The Impact of Flipped Learning on the
Emotional Attributes of College Students” yang ditulis oleh Muhammad Hanif,
Mustaji, dan Fajar Arianto, terungkap bahwa metode pembelajaran terbalik ini
tidak hanya mengubah cara mahasiswa belajar, tetapi juga membentuk kualitas
emosional mereka dalam menghadapi proses akademik yang dinamis.
Dalam
flipped learning, mahasiswa tidak lagi datang ke kelas hanya untuk
mendengarkan ceramah dosen. Mereka terlebih dahulu mempelajari materi secara
mandiri melalui video, modul digital, atau sumber daring lainnya. Waktu di
kelas kemudian digunakan untuk berdiskusi, memecahkan masalah, dan
berkolaborasi secara aktif. Dengan cara ini, mahasiswa berperan sebagai subjek
pembelajaran, bukan sekadar penerima informasi.
Penelitian
ini, yang dilakukan dengan pendekatan systematic review menggunakan protokol
PRISMA, menelaah lebih dari 200 publikasi terbitan 2014–2023 melalui Publish
or Perish (POP). Hasil analisis menunjukkan bahwa flipped learning
memiliki pengaruh positif terhadap atribut emosional mahasiswa, terutama dalam
meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan (engagement), dan rasa percaya diri
akademik (self-efficacy).
Lebih
jauh, penulis berpendapat bahwa flipped learning bukan sekadar inovasi
teknologi, melainkan sebuah pendekatan humanistik yang menempatkan mahasiswa
sebagai pusat pembelajaran. Metode ini mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab,
kemandirian, dan interaksi sosial yang sehat antara mahasiswa, dosen, serta lingkungan
belajar.
Di
tengah tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, hasil penelitian ini
memberikan refleksi penting: bahwa transformasi digital seharusnya tidak hanya
difokuskan pada perangkat dan platform, tetapi juga pada pembentukan karakter
emosional dan sosial mahasiswa.
Dengan
demikian, flipped learning patut dipandang sebagai strategi pembelajaran
masa depan—bukan hanya karena efisiensi teknologi, tetapi karena kemampuannya
membentuk manusia pembelajar yang tangguh, empatik, dan adaptif dalam
menghadapi perubahan zaman.