Fleksibilitas Kurikulum Pasca Bencana dalam Perspektif Ilmuwan Teknologi Pendidikan
Fleksibilitas Kurikulum Pasca Bencana dalam
Perspektif Ilmuwan Teknologi Pendidikan
Kurikulum
sering kali menjadi elemen paling kaku dalam sistem pendidikan. Pasca
bencana, kekakuan ini justru dapat menghambat pemulihan proses belajar. Ilmuwan
teknologi pendidikan memandang fleksibilitas kurikulum sebagai kebutuhan
mendesak agar pembelajaran tetap relevan dan manusiawi dalam situasi krisis.
Fleksibilitas kurikulum tidak berarti menghilangkan
standar, tetapi menyesuaikan prioritas. Kompetensi esensial perlu dipilah dari
kompetensi tambahan. Teknologi pendidikan membantu guru dan sekolah mengelola
kurikulum secara modular, sehingga materi dapat disajikan secara bertahap dan
kontekstual sesuai kondisi peserta didik.
Pendekatan
berbasis kompetensi menjadi semakin relevan pasca bencana. Fokus tidak lagi
pada ketuntasan materi, tetapi pada pengembangan kemampuan berpikir,
resiliensi, dan literasi dasar. Teknologi memungkinkan penyajian konten yang
lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna, meskipun dalam keterbatasan sumber
daya.
Bagi
pengambil kebijakan, fleksibilitas kurikulum memerlukan keberanian untuk
memberi otonomi lebih besar kepada satuan pendidikan. Regulasi yang adaptif
akan memberikan ruang bagi inovasi pembelajaran berbasis teknologi yang sesuai
dengan kondisi lokal pasca bencana.
Dengan demikian, fleksibilitas kurikulum merupakan fondasi penting pembelajaran pasca bencana. Perspektif teknologi pendidikan membantu menjembatani antara tuntutan kurikulum nasional dan realitas lapangan yang penuh tantangan