Etika dan Keberlanjutan dalam Edutechnopreneurship: Pandangan Ilmuwan Teknologi Pendidikan
Etika dan
Keberlanjutan dalam Edutechnopreneurship: Pandangan Ilmuwan Teknologi
Pendidikan
Perkembangan
edutechnopreneurship sebagai bidang persimpangan antara pendidikan, teknologi,
dan bisnis membuka peluang besar bagi transformasi sistem pembelajaran di
berbagai level. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat tantangan serius
terkait etika dan keberlanjutan yang tidak boleh diabaikan. Ilmuwan teknologi
pendidikan, sebagai aktor intelektual yang memahami dinamika pedagodik
sekaligus struktur teknologi, memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa
inovasi tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bermakna secara
moral dan berkelanjutan secara sosial.
Etika dalam
edutechnopreneurship berkaitan dengan bagaimana teknologi digunakan, siapa yang
diuntungkan, dan siapa yang berpotensi dirugikan. Sebuah produk edutech,
misalnya, mungkin sangat canggih dan laku di pasaran, namun jika hanya dapat
diakses oleh kalangan tertentu dan memperlebar kesenjangan digital, maka nilai
etikanya patut dipertanyakan. Ilmuwan teknologi pendidikan dituntut untuk
memiliki kepekaan kritis terhadap isu-isu seperti aksesibilitas, inklusivitas,
perlindungan data siswa, serta dampak psikologis dan sosial dari penggunaan
teknologi digital dalam pembelajaran.
Keberlanjutan
(sustainability) juga menjadi dimensi penting dalam edutechnopreneurship.
Banyak startup edutech yang muncul dengan ide-ide brilian, tetapi tidak
bertahan lama karena model bisnis yang rapuh, kurangnya strategi adaptasi, atau
kegagalan memahami kebutuhan jangka panjang pengguna. Dari perspektif teknologi
pendidikan, keberlanjutan bukan hanya berarti bertahan secara finansial, tetapi
juga mampu terus relevan dengan perkembangan kurikulum, karakteristik generasi
belajar, dan kebutuhan konteks lokal. Produk edutech yang berkelanjutan adalah
produk yang mampu bertransformasi tanpa kehilangan esensi pedagogisnya.
Ilmuwan teknologi
pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap inovasi
yang dikembangkan tidak hanya mengikuti tren pasar, tetapi juga berlandaskan
pada teori belajar dan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan bukanlah komoditas
semata, melainkan hak fundamental setiap individu. Oleh karena itu, ketika
pendidikan dikemas menjadi produk bisnis, harus ada keseimbangan antara motif
ekonomi dan tujuan sosial. Edutechnopreneur yang lahir dari latar belakang
akademik seharusnya mampu menjaga keseimbangan ini dengan kesadaran etik yang
tinggi.
Salah satu contoh
konkret praktik etis dalam edutechnopreneurship adalah pengembangan teknologi
yang ramah bagi penyandang disabilitas. Fitur seperti teks ke suara, navigasi
ramah tunanetra, subtitle otomatis, dan desain antarmuka sederhana tidak hanya
mencerminkan inovasi teknologi, tetapi juga komitmen terhadap keadilan sosial.
Di sinilah ilmuwan teknologi pendidikan dapat memainkan peran sebagai penjaga
nilai (guardian of values) yang memastikan bahwa teknologi menjadi alat
pemberdayaan, bukan penindasan atau eksklusi.
Lebih jauh lagi, aspek
lingkungan juga menjadi bagian dari dimensi keberlanjutan. Meskipun edutech
berfokus pada dunia digital, penggunaan perangkat keras, server data, dan
konsumsi energi tetap memiliki jejak lingkungan (carbon footprint). Oleh karena
itu, praktik edutechnopreneurship yang berkelanjutan juga perlu memikirkan
efisiensi energi, penggunaan perangkat yang ramah lingkungan, serta
optimalisasi sumber daya digital yang tidak berlebihan.
Pada akhirnya,
keberhasilan edutechnopreneurship tidak hanya diukur dari valuasi startup atau
jumlah pengguna aplikasi, tetapi dari seberapa besar dampak positifnya terhadap
kualitas pendidikan dan kesejahteraan manusia. Ilmuwan teknologi pendidikan,
dengan latar belakang filosofis dan praktisnya dalam dunia pembelajaran,
memiliki posisi unik untuk mengarahkan perkembangan edutech agar tetap berada
di jalur yang etis, adil, dan berkelanjungan. Inilah panggilan moral sekaligus
intelektual mereka di era disrupsi digital.