Etika dalam Teknologi Pendidikan: Pilar Moral di Era Transformasi Digital
Etika dalam
Teknologi Pendidikan: Pilar Moral di Era Transformasi Digital
Oleh: Redaksi Teknologi Pendidikan
Pendahuluan
Perkembangan teknologi yang pesat telah mengubah wajah dunia pendidikan
secara mendasar. Dari ruang kelas fisik menuju pembelajaran daring, dari papan
tulis menuju kecerdasan buatan — transformasi ini membawa peluang sekaligus
tantangan etis yang tak terelakkan. Di tengah arus perubahan tersebut, kode
etik profesional yang diterbitkan oleh Association for Educational
Communications and Technology (AECT) tahun 2022 menjadi pedoman penting
bagi para profesional teknologi pendidikan dalam menjaga integritas,
kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial.
Kode
etik AECT 2022 menegaskan tiga komitmen utama: terhadap individu, terhadap
masyarakat, dan terhadap profesi. Ketiganya membentuk fondasi moral yang harus
dijunjung oleh setiap praktisi teknologi pendidikan agar inovasi tidak
mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
1. Komitmen
terhadap Individu: Teknologi untuk Memberdayakan, Bukan Mengendalikan
Dalam
konteks pendidikan, teknologi seharusnya memperluas akses dan kesempatan
belajar bagi semua, bukan mempersempit atau mengekang kebebasan berpikir. AECT
menekankan bahwa setiap anggota harus menghormati hak individu, menjaga
privasi, dan mendorong kebebasan belajar. Penggunaan data siswa, misalnya,
harus didasarkan pada prinsip transparansi dan keamanan, bukan untuk manipulasi
algoritmik atau kepentingan komersial.
Lebih dari itu, profesional teknologi pendidikan wajib menghindari konten yang
bersifat diskriminatif serta aktif mempromosikan keberagaman budaya, gender,
dan pandangan. Dalam dunia yang semakin terhubung, teknologi pendidikan harus
menjadi jembatan keberagaman, bukan dinding pemisah.
2. Komitmen
terhadap Masyarakat: Inovasi dengan Integritas
Teknologi
pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa tanggung jawab sosial. AECT
mengingatkan bahwa profesional di bidang ini harus jujur dalam
merepresentasikan institusinya, menghindari konflik kepentingan, serta tidak
menggunakan jabatan atau akses teknologi untuk keuntungan pribadi.
Dalam era digital, di mana batas antara kepentingan pribadi dan publik semakin
kabur, integritas menjadi mata uang kepercayaan. Profesional teknologi
pendidikan harus memastikan bahwa setiap inovasi yang diciptakan memberi
manfaat nyata bagi masyarakat, meminimalkan dampak negatif lingkungan, serta
memperkuat nilai-nilai keadilan dan keterbukaan.
3. Komitmen
terhadap Profesi: Etika sebagai Napas Profesionalisme
Teknologi
pendidikan bukan hanya soal alat, tetapi juga tentang manusia yang
menggunakannya. Karena itu, AECT menekankan pentingnya pengembangan kompetensi
berkelanjutan, kejujuran akademik, dan tanggung jawab ilmiah. Para profesional
dituntut untuk terus belajar, berbagi pengetahuan, dan menghargai karya orang
lain dengan memberikan kredit yang layak.
Selain itu, mereka wajib mematuhi aturan hukum, etika penelitian, dan
perlindungan terhadap partisipan riset. Etika bukan sekadar pelengkap
administratif, tetapi fondasi kepercayaan publik terhadap profesi teknologi
pendidikan.
Penutup
Refleksi:
Etika sebagai Kompas di Era Disrupsi
Di
tengah derasnya arus digitalisasi, kode etik AECT 2022 hadir sebagai kompas
moral bagi para pendidik, pengembang, dan peneliti teknologi pendidikan. Ia
mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengabaikan nilai
kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab profesional.
Etika
dalam teknologi pendidikan bukanlah sekadar kewajiban, melainkan panggilan
moral untuk memastikan bahwa setiap inovasi berakar pada kemaslahatan manusia.
Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi dari teknologi dalam pendidikan bukan
hanya membuat belajar lebih canggih — tetapi membuat manusia lebih bijaksana
[mustaji]