Era Kecerdasan Buatan Tuntut Metode Riset Baru yang Lebih Canggih
Era Kecerdasan Buatan Tuntut Metode Riset Baru yang
Lebih Canggih
Surabaya, [23/11/2025] – Perkembangan
pesat dalam Kecerdasan Buatan (AI) menuntut komunitas akademis dan peneliti
untuk mengadopsi metodologi penelitian yang lebih inovatif dan canggih. Tiga
pendekatan utama yang kini menjadi sorotan adalah Riset Eksperimen Simulasi
(VR), Learning Analytics & AI Modeling, dan Mixed Reality
Research.
1. Riset Eksperimen Simulasi:
Mengendalikan yang Tak Terkendali
Metode Riset Eksperimen Simulasi
berbasis Virtual Reality (VR) menawarkan solusi untuk melakukan
penelitian dalam kondisi yang sulit atau berisiko tinggi di dunia nyata. Dengan
VR, peneliti dapat mengendalikan variabel secara sangat ketat, memungkinkan
simulasi situasi kompleks tanpa membahayakan partisipan atau lingkungan.
"VR memungkinkan kita untuk
menciptakan skenario yang mustahil di lab fisik, misalnya, mensimulasikan
bencana alam, menjalankan eksperimen di laboratorium berisiko tinggi, atau
melatih tim dalam operasi medis yang rumit," ujar Prof. Dr. I Nyoman S
Degeng, M.Pd, seorang pakar tekn%ologi pendidikan dari Universitas Negeri
Malang yang disampaikan dalam acara konferensi teknologi pendidikan di Surabaya
(22/11/2025)
2. Learning Analytics dan
Pemodelan AI: Memahami Otak Pembelajar
Dalam konteks pendidikan dan perilaku
kognitif, Learning Analytics & AI Modeling memberikan wawasan
mendalam tentang proses belajar. Peneliti kini dapat memanfaatkan kekuatan data
besar melalui:
- Machine Learning untuk
memprediksi keberhasilan belajar siswa secara individual.
- Analisis pola interaksi siswa dalam platform
digital.
- Pengenalan emosi (affective computing)
untuk mengukur keterlibatan dan kondisi mental siswa selama proses
pembelajaran.
Pendekatan ini menjanjikan
personalisasi pendidikan yang lebih baik dan intervensi yang tepat waktu.
3. Mixed Reality Research:
Jembatan Dunia Virtual dan Fisik
Inovasi terbaru hadir melalui Mixed
Reality Research. Metode ini fokus pada penelitian perilaku belajar di
ruang virtual-fisik secara bersamaan. Dengan menggabungkan elemen dunia nyata
dan virtual, Mixed Reality membuka peluang untuk mengamati bagaimana
individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan hibrida—sebuah kondisi
yang semakin relevan di era kerja dan belajar jarak jauh.
Secara keseluruhan, adopsi tiga
metode ini menandai lompatan besar dari penelitian konvensional menuju kerangka
kerja yang lebih adaptif, prediktif, dan imersif, yang sangat penting untuk
memahami dan membentuk masa depan dalam era AI. [mustaji]