Educational Assessment Reform
Educational Assessment
Reform
Reformasi penilaian
pendidikan (educational assessment reform) menjadi bagian penting dari
upaya global untuk meningkatkan kualitas dan keadilan dalam sistem pendidikan.
SDG 4 menekankan perlunya sistem asesmen yang menilai pembelajaran secara
komprehensif—tidak hanya mengukur kemampuan kognitif, tetapi juga keterampilan
berpikir kritis, kreativitas, dan nilai-nilai karakter. Penilaian yang
berorientasi pada hasil belajar sejati menjadi langkah penting menuju
pendidikan yang lebih bermakna.
Selama bertahun-tahun,
banyak sistem pendidikan bergantung pada ujian standar yang hanya menilai aspek
akademik. Hal ini menciptakan tekanan berlebihan bagi siswa dan guru, serta
menghambat eksplorasi kemampuan nonkognitif seperti kolaborasi dan kepemimpinan.
Reformasi penilaian berupaya menggeser paradigma tersebut menuju model yang
lebih manusiawi dan berpusat pada proses belajar.
Perubahan ini memerlukan
pendekatan berbasis kompetensi, di mana asesmen dirancang untuk menilai
kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Penggunaan portofolio,
proyek, dan asesmen berbasis performa dapat menjadi alternatif efektif. Guru
juga perlu dilatih agar mampu menilai secara objektif dan reflektif tanpa
mengabaikan dimensi afektif peserta didik.
Namun, tantangan muncul
dalam hal kebijakan, sumber daya, dan kesiapan sistem. Reformasi asesmen
memerlukan perubahan budaya pendidikan secara menyeluruh, termasuk pemahaman
masyarakat bahwa nilai angka bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Pemerintah perlu menyediakan pedoman nasional dan pelatihan komprehensif bagi
guru.
Dengan melaksanakan
reformasi penilaian yang adil, otentik, dan berorientasi pada perkembangan
peserta didik, sistem pendidikan dapat menjadi lebih inklusif dan bermakna.
Inilah esensi dari SDG 4: memastikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa
yang dipelajari, tetapi juga bagaimana siswa tumbuh sebagai individu dan warga
dunia yang beretika.