Diskusi Mahasiswa S3 UNESA: Tantangan dan Peluang Model Berorientasi Kelas
Dalam suasana akademik yang hangat dan kritis, mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar diskusi mendalam mengenai tantangan dan peluang penerapan model pembelajaran berorientasi kelas (classroom-oriented models). Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan yang diampu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd, salah satu pakar terkemuka di bidang pengembangan desain pembelajaran di Indonesia.
Diskusi ini berangkat dari realitas bahwa di tengah perkembangan teknologi pendidikan yang serba cepat, model pembelajaran berbasis kelas masih memegang peranan penting sebagai ruang utama pengembangan interaksi, nilai, dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. Namun, perubahan paradigma belajar dari konvensional ke digital menghadirkan tantangan tersendiri.
Dalam pemaparannya, Prof. Mustaji menegaskan bahwa tantangan terbesar dari model berbasis kelas adalah menjaga relevansi dan efektivitasnya di era digital. “Kita tidak bisa lagi memandang kelas sebagai ruang fisik semata. Kelas kini adalah ruang interaksi multi-dimensi—tempat bertemunya ide, pengalaman, dan teknologi,” ujarnya.
Para mahasiswa kemudian berdiskusi mengenai sejumlah isu penting, seperti bagaimana mempertahankan keterlibatan aktif peserta didik, mengelola perbedaan gaya belajar, serta mengintegrasikan teknologi digital tanpa menghilangkan esensi interaksi manusia. Dari hasil diskusi, muncul beberapa gagasan inovatif, seperti penerapan hybrid classroom, pemanfaatan learning analytics untuk memantau partisipasi mahasiswa, hingga desain tugas kolaboratif lintas institusi.
Salah satu mahasiswa, dalam paparannya, menyoroti pentingnya membangun budaya reflektif di dalam kelas. Menurutnya, kelas seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membangun kesadaran kritis terhadap proses belajarnya sendiri. Pendapat ini sejalan dengan arah yang ditegaskan Prof. Mustaji, bahwa pembelajaran berorientasi kelas harus mampu menumbuhkan kemandirian berpikir dan tanggung jawab belajar pada setiap mahasiswa.
Selain membahas tantangan, diskusi ini juga menyoroti peluang besar yang ditawarkan model classroom-oriented di pendidikan tinggi. Model ini dapat memperkuat kompetensi pedagogis calon pendidik dan peneliti, meningkatkan kemampuan berkolaborasi, serta menumbuhkan empati akademik di antara mahasiswa. Dalam konteks S3 Teknologi Pendidikan, model ini juga menjadi landasan dalam pengembangan desain pembelajaran untuk penelitian disertasi.
Prof. Mustaji menutup sesi dengan pesan inspiratif: “Model pembelajaran berbasis kelas akan terus relevan selama kita memaknainya sebagai tempat tumbuhnya interaksi manusia yang bermakna. Teknologi hanyalah alat, tetapi nilai-nilai kemanusiaan dalam pembelajaranlah yang menjadikannya hidup.”
Melalui kegiatan diskusi ini, mahasiswa S3 UNESA semakin memahami bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus meninggalkan tradisi kelas. Sebaliknya, dengan desain yang tepat, kelas dapat menjadi ruang yang dinamis, reflektif, dan kolaboratif, sejalan dengan kebutuhan pendidikan masa depan yang mengedepankan pemikiran kritis dan konektivitas manusia.