Cooperative Learning vs Collaborative Learning: Antara Kerjasama Terstruktur dan Kolaborasi Mandiri
Cooperative Learning vs Collaborative Learning: Antara Kerjasama
Terstruktur dan Kolaborasi Mandiri
Oleh: Mustaji,
Universitas Negeri Surabaya
Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan modern, istilah cooperative learning dan collaborative
learning sering muncul berdampingan, bahkan tidak jarang digunakan secara
bergantian. Padahal, keduanya memiliki landasan filosofis dan pendekatan
pedagogis yang berbeda secara mendasar. Memahami perbedaan ini sangat penting,
terutama bagi pendidik yang ingin mengembangkan pembelajaran aktif, kreatif,
dan berorientasi pada pengembangan kemampuan sosial serta berpikir kritis
peserta didik.
Kooperative
Learning: Kerjasama dengan Struktur yang Terarah
Model cooperative learning menekankan kerja sama dalam kelompok
kecil dengan struktur yang jelas dan peran yang ditentukan oleh guru. Setiap
anggota kelompok memiliki tanggung jawab tertentu dan hasil belajar kelompok
bergantung pada kontribusi individu.
Guru dalam model ini berperan sebagai perancang dan pengatur strategi
interaksi. Misalnya, dalam metode Jigsaw, STAD (Student Teams
Achievement Division), atau Think Pair Share, peran setiap siswa
diatur agar semua berpartisipasi aktif. Tujuan utamanya bukan hanya
menyelesaikan tugas, tetapi juga memastikan bahwa setiap anggota kelompok
memahami materi secara menyeluruh.
Ciri khas cooperative learning adalah adanya interdependensi
positif, tanggung jawab individu, interaksi tatap muka, dan evaluasi kelompok.
Dengan demikian, pembelajaran ini lebih cocok digunakan pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah, di mana siswa masih memerlukan arahan dan struktur dalam
bekerja sama.
Collaborative
Learning: Kolaborasi Setara dalam Kemandirian
Berbeda dengan itu, collaborative learning menempatkan peserta
didik sebagai mitra sejajar yang bekerja bersama secara otonom untuk mencapai
pemahaman bersama. Guru bukan lagi pengatur langkah-langkah, melainkan
fasilitator yang menyediakan ruang diskusi, sumber belajar, dan tantangan
intelektual.
Dalam collaborative learning, tidak ada pembagian peran yang
kaku. Interaksi muncul secara alami berdasarkan minat, kemampuan, dan kebutuhan
anggota kelompok. Tujuannya bukan semata mencapai jawaban benar, tetapi
membangun makna dan pengetahuan bersama (shared meaning) melalui negosiasi ide
dan refleksi.
Pendekatan ini sangat relevan untuk pendidikan tinggi dan lingkungan
belajar abad ke-21 yang menuntut kemandirian berpikir, komunikasi terbuka,
serta kemampuan memecahkan masalah kompleks bersama orang lain.
Dimensi
Perbedaan
|
No |
Dimensi |
Collaborative Learning |
Cooperative Learning |
|
1 |
Mekanisme proses belajar |
Lebih dikendalikan oleh siswa |
Lebih banyak dikendalikan oleh guru |
|
2 |
Pendekatan |
|
Terstruktur, sistematis, dan prosedural dalam setiap
aktivitas belajar |
|
3 |
Tradisi |
Cenderung menggunakan metode kualitatif |
Cenderung menggunakan metode kuantitatif |
|
4 |
Kegunaan |
Sukses kerjasama secara konstruktivis-pergerakan
sosial |
Sukses kerja sama yang eksklusif |
|
5 |
Pembentu-kan tim
|
a.
Mengijinkan siswa
untuk membentuk tim belajar berdasarkan “pertemanan” dan minat b. Pembicaraan siswa ditekankan sebagai alat/makna untuk
bekerja/belajar berbagai hal ke luar c.
Menggunakan
pendekatan kontekstual untuk membelajarkan keterampilan |
a.
Diatur oleh guru agar
heterogen b. Diajar berbagai keterampilan kooperatif |
|
6 |
Otoritas |
a.
Sungguh-sungguh
menguasakan tindak belajar pada siswa, termasuk resiko yang mungkin timbul b. Hasil belajar mungkin / bisa kurang disetujui guru atau
tidak meyakinkan guru c.
Solusi yang
dihasilkan siswa bisa tidak sesuai dengan “milik” guru, karena pembelajar
mungkin tidak “memiliki persepsi yang sama” dengan siswa d. Tiap pebelajar punya pegangan, makna kata, nilai, dan
minat tertentu , sehingga guru mungkin tidak “sepersepsi” dengan siswa
meskipun secara akademis pembelajar mungkin/merasa lebih menguasai |
a.
Tidak memberikan
otoritas atau “menguasakan’ belajar pada siswa b. Pebelajar bekerja untuk melayani guru dan hasil
“benar” menurut ukuran guru |
Menggabungkan
Dua Model
Dalam praktiknya, perbedaan keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Justru, integrasi antara cooperative dan collaborative learning
dapat menghasilkan pembelajaran yang seimbang: struktur yang cukup untuk
menjaga arah, sekaligus kebebasan untuk berpikir kritis dan kreatif.
Misalnya, guru dapat memulai dengan pendekatan cooperative untuk
membangun dasar konsep dan kebiasaan bekerja sama, lalu beralih ke collaborative
saat siswa sudah lebih siap untuk berdebat, menafsirkan, dan mengonstruksi
pengetahuan secara mandiri.
Penutup
Dalam era pendidikan abad ke-21, di mana kompetensi kolaboratif dan
kemampuan berpikir kritis menjadi kunci, pemahaman mendalam terhadap dua model
ini sangat penting. Cooperative learning membangun disiplin dan tanggung
jawab; collaborative learning menumbuhkan otonomi dan kreativitas. Guru
visioner akan mampu menyeimbangkan keduanya, agar pembelajaran bukan sekadar
kerja sama menyelesaikan tugas, tetapi juga proses bersama membangun
pengetahuan dan kemanusiaan.