APAKAH LMS MEMBANTU ATAU MEMBEBANI DOSEN?
Apakah
LMS Membantu atau Membebani Dosen?
Di
era digital sekarang, banyak kampus sudah menggunakan Learning Management
System (LMS) untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. LMS ini bisa berupa
platform seperti Moodle, Google Classroom, atau sistem buatan kampus sendiri.
Tujuannya jelas: agar proses belajar bisa lebih praktis, efisien, dan bisa
dilakukan di mana saja. Namun, di balik manfaatnya, muncul juga pertanyaan:
apakah LMS benar-benar membantu dosen, atau malah menambah beban kerja mereka?
Bagi
sebagian dosen, LMS tentu sangat membantu. Dengan sistem ini, dosen tidak perlu
repot mencetak materi, mengumpulkan tugas manual, atau menilai secara satu per
satu di atas kertas. Semua bisa dilakukan secara digital. Dosen juga bisa
memantau aktivitas mahasiswa dengan lebih mudah — siapa yang aktif, siapa yang
belum mengumpulkan tugas, bahkan siapa yang jarang membuka materi. Jadi, dalam
hal efisiensi dan data, LMS jelas mempermudah.
Namun,
di sisi lain, banyak dosen merasa terbebani. Tidak semua dosen terbiasa dengan
teknologi. Ada yang merasa pusing harus mengunggah materi, mengatur jadwal
kuis, atau memperbaiki nilai di sistem yang kadang error. Belum lagi kalau
jaringan internet tidak stabil atau platformnya lambat, pekerjaan jadi dua kali
lipat. Selain itu, kampus sering kali menuntut dosen untuk menggunakan LMS
dengan banyak fitur, padahal pelatihannya minim.
Selain
soal teknis, ada juga beban waktu. Karena LMS bisa diakses kapan saja, beberapa
mahasiswa sering mengirim pesan atau tugas di luar jam kuliah. Akibatnya, dosen
merasa tidak punya batas waktu kerja yang jelas. Ada tekanan tersendiri untuk
selalu online dan merespons mahasiswa dengan cepat. Hal ini bisa membuat
dosen kelelahan secara mental, terutama bagi mereka yang juga punya banyak
tanggung jawab lain di luar mengajar.
Jadi,
apakah LMS membantu atau membebani? Jawabannya tergantung pada bagaimana sistem
itu dijalankan dan didukung. Jika kampus memberikan pelatihan yang cukup,
menyediakan sistem yang mudah digunakan, dan menghargai waktu kerja dosen, maka
LMS bisa jadi alat bantu yang luar biasa. Tapi kalau tidak ada dukungan itu,
LMS justru bisa berubah menjadi beban tambahan. Intinya, teknologi seharusnya
mempermudah manusia, bukan malah membuatnya semakin lelah