9 Dampak Teknologi Imersif dan AI terhadap Pembaharuan Riset Pembelajaran
9 Dampak Teknologi Imersif dan AI terhadap Pembaharuan Riset
Pembelajaran
Oleh: Redaksi
EduTech
Transformasi digital yang dipacu oleh teknologi
imersif (AR/VR/XR) dan Kecerdasan Buatan (AI) bukan sekadar upgrade alat
bantu dalam dunia pendidikan, melainkan sebuah revolusi metodologis dalam ranah
riset pembelajaran. Opini yang disampaikan oleh Teknolog Pembelajaran Nyoman S.
Degeng dari Universitas Negeri Malang mengenai sembilan dampak krusial ini
perlu dijadikan landasan berpikir bagi para akademisi dan peneliti.
Mendorong Paradigma dan Metodologi Riset yang Lebih Dalam
Daftar sembilan dampak yang teridentifikasi
menunjukkan pergeseran dari sekadar alat menjadi perubahan filosofis dalam
riset.
Aspek Paradigma dan Metodologi:
- Munculnya Paradigma Penelitian Baru: Teknologi imersif, khususnya
Extended Reality (XR), memungkinkan peneliti mempelajari proses kognitif
dan perilaku dalam lingkungan yang terkontrol namun sangat realistis. Ini
membuka jalan bagi riset in-situ yang tidak mungkin dilakukan di
kelas tradisional, mendorong lahirnya paradigma yang lebih berpusat pada experience
dan interaksi.
- Perubahan Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data: Instrumen riset
kini tak lagi terbatas pada self-report atau observasi manual. AI
dan XR dapat mengumpulkan data besar (big data) secara otomatis dan real-time,
meliputi metrik seperti respon fisiologis (melalui wearable devices),
waktu reaksi, perhatian visual (eye-tracking), dan pola interaksi
digital yang sangat detail.
- Metode Penelitian Baru yang Lebih Canggih: Integrasi AI
memungkinkan penggunaan metode seperti Analitik Pembelajaran (Learning
Analytics) dan Educational Data Mining (EDM) untuk mengidentifikasi
pola belajar yang kompleks secara prediktif. Pendekatan riset
eksperimental menjadi lebih kuat karena variabel lingkungan dapat
dimanipulasi dengan presisi tinggi di lingkungan virtual, yang pada
gilirannya meningkatkan validitas internal temuan (poin 6).
Dampak pada Kualitas Riset dan Praktik Pembelajaran
Aspek Kualitas dan Aplikasi:
- Pembaharuan Desain Pembelajaran dan Treatment (poin 4):
Penelitian tidak hanya mengukur efektivitas, tetapi juga merancang treatment
berbasis teknologi imersif yang adaptif dan personalisasi berkat kemampuan
AI. Riset kini dapat menghasilkan treatment yang secara dinamis
menyesuaikan diri dengan kebutuhan belajar individu.
- Peningkatan Validitas dan Reliabilitas Instrumen (poin 5):
Otomatisasi dalam pengumpulan dan analisis data oleh AI dapat meminimalkan
bias manusia, memastikan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengukur
konstruksi pembelajaran memiliki akurasi yang lebih tinggi dan konsistensi
yang lebih baik.
Tantangan dan Arah Masa Depan
Dampak ini juga menyoroti dua area krusial untuk
pengembangan riset di masa depan:
- Peluang Riset Interdisipliner (poin 7): Pembaharuan ini memaksa
kolaborasi antara Teknolog Pembelajaran, Ilmu Komputer, Psikolog Kognitif,
dan Etika. Kompleksitas teknologi dan data menuntut keahlian gabungan
untuk merancang penelitian yang valid dan relevan.
- Fokus Baru pada Etika Riset (poin 8): Pengumpulan data biometrik, eye-tracking,
dan data perilaku dalam jumlah besar memunculkan kekhawatiran serius
tentang privasi, anonimitas, dan bias dalam algoritma AI. Etika
riset harus diperkuat untuk memastikan teknologi ini digunakan secara
bertanggung jawab dan adil.
- Pembaharuan terhadap Teori Belajar dan Pembelajaran (poin 9): Yang
paling signifikan, data baru yang rich dan granuler dari
lingkungan imersif dapat menguji kembali, memvalidasi, atau bahkan
menggugurkan teori-teori belajar yang sudah mapan, seperti teori kognitif
atau konstruktivis, mendorong lahirnya teori pembelajaran era digital yang
lebih relevan.
Kesimpulan:
Opini Nyoman S. Degeng adalah sebuah call to action.
Teknologi imersif dan AI tidak hanya meminta peneliti untuk mengadopsi alat
baru, tetapi menantang mereka untuk memikirkan kembali apa itu riset
pembelajaran, bagaimana riset dilakukan, dan apa hasilnya bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan praktik pendidikan. Kunci keberhasilan ada pada keberanian
peneliti untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan menempatkan etika sebagai
fondasi utama dalam eksplorasi teknologi yang disruptive ini.