VIDEO PEMBELAJARAN: SOLUSI CEPAT ATAU DISTRAKSI BARU?
Video
Pembelajaran: Solusi Cepat atau Distraksi Baru?
Di
era digital sekarang, video pembelajaran jadi salah satu cara belajar yang
paling populer. Banyak guru dan siswa merasa video bisa membuat materi lebih
mudah dipahami. Dengan tampilan visual, animasi, dan suara yang menarik,
belajar terasa lebih ringan dan tidak membosankan. Tapi di balik
kepraktisannya, muncul pertanyaan: apakah video pembelajaran benar-benar solusi
cepat untuk belajar, atau malah jadi gangguan baru?
Tidak
bisa dipungkiri, video pembelajaran memang punya banyak kelebihan. Siswa bisa
mengulang materi kapan saja jika belum paham, dan guru bisa menjelaskan hal
rumit dengan gambar atau simulasi. Video juga bisa menjangkau banyak orang
sekaligus tanpa perlu tatap muka. Ini sangat membantu, apalagi saat pandemi
atau untuk siswa yang belajar jarak jauh. Dari sisi efisiensi, video jelas
membuat belajar jadi lebih praktis.
Namun,
terlalu banyak mengandalkan video juga punya sisi negatif. Tidak semua siswa
bisa fokus saat belajar lewat layar. Kadang niatnya mau nonton video pelajaran,
tapi malah tergoda buka YouTube lain, main game, atau scroll media sosial.
Selain itu, video membuat proses belajar terasa satu arah. Siswa hanya menonton
tanpa banyak berdiskusi atau berpikir kritis. Akibatnya, kemampuan analisis dan
interaksi jadi menurun.
Bagi
sebagian guru, membuat video pembelajaran juga bukan hal mudah. Dibutuhkan
waktu, keterampilan editing, dan ide kreatif agar video tidak membosankan. Jika
tidak dibuat dengan baik, video malah bisa membuat siswa bingung atau
kehilangan minat. Jadi, meskipun terlihat sederhana, penggunaan video
pembelajaran tetap butuh perencanaan dan pendampingan yang matang.
Kesimpulannya,
video pembelajaran bisa menjadi solusi cepat jika digunakan dengan bijak —
sebagai pelengkap, bukan satu-satunya cara belajar. Tapi kalau dipakai tanpa
arah dan tanpa pengawasan, video justru bisa berubah jadi distraksi yang
mengganggu. Intinya, bukan videonya yang salah, tapi bagaimana kita
menggunakannya. Teknologi seharusnya membantu belajar, bukan menggantikan
proses berpikir itu sendiri.